Label

Sabtu, 27 Oktober 2012

perbedaan kurikulum lama dengan Ktsp




PERBEDAAN KURIKULUM LAMA DENGAN KTSP
Aspek
Kurikulum lama
Ktsp
Dokumen
Seluruh dokumen kurikulum direncanakan, dibuat, dan dikembangkan oleh pusat
Komponen dan materi pokok minimal dikembangkan pusat, sedangkan Silabus dan bahan ajar direncanakan dan dikembangkan  oleh sekolah atau satuan pendidikan
Diformulasikan secara rigid, kaku, tidak luwes dan kurang dinamis, sehingga tidak memberikan peluang kpd daerah ,sekolah, dan guru  untuk mengembangkan potensinya
Semua diserahkan kepada daerah, satuan pendidikan, dan guru sesuai dengan kebutuhannya, asal memenuhi standar minimal yg ditentukan .
Konten/Isi
Materi padat dan tumpang tindih. Terlalu banyak hafalan, kurang mengarah pada pembentukan sikap ilmiah dan kepribadian melalui pengembangan ketrampilan dan sikap .
Materi dibentuk  untuk mengarah pd kompetensi yg dituntut. Karena berbasis kompetensi, maka materi pokok bukan hafalan, ttp mengarah pd kompetensi yg dituntut seperti yang  diperagakan .
Persiapan
Guru diminta mempersiapkan AMP (Analisis Materi Pelajaran), Program Tahunan, Program Catur Wulan, Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pembelajaran
Guru diminta membuat Silabus, Program Tahunan, Program Semester,  Rencana /Skenario Pembelajaran, dan Bahan Ajar
Proses
Materi yang seringkali overlapping sehingga menyulitkan guru dan siswa
Guru diberi kebebasan berkreasi dlm mengembangkan secara kreatif materi pokok  untuk mencapai kompetensi yg ditentukan
Dalam pelaksanaan kurang memperhatikan learning to know, learning to do, learning to  live together, & learning to be secara proporsional . Lebih dan kebanyakan  hanaya pada learning to know
Kesemua itu diakomodasikan secara integratif dan proporsional
Formulasi dan pelaksanaan kurikulum kurang memperhatikan keutuhan aspek kognitif, afrktif, & psikomotorik
Ketiganya merupakan suatu keutuhan dalam pencapaian kompetensi
Siswa sebagai obyek pendidikan dalam proses pembelajaran
Siswa sebagai subyek pendidikan (student centered learning)
Kecakapan hidup (life skill) kurang terakomodasi dalam kurikulum dan pproses pembelajaran, karena mengejar  target kurikuler
Terakomodasi secara terpadu dan proporsional dalam kurikulum dan pproses pembelajarannya
Berorientasi pada proses dan target kurikulum
Berorientasi pada ouput kompetensi siswa






Komentar/Analisis
Dari segi dokumen
Kurikulum lama
Di dalam kurikulum lama sebelum Ktsp tidak memberikan kebebasan bagi daerah,sekolah/satuan pendidikan untuk merencanakan, membuat maupun mengembangkan seluruh dokumen kurikulum karena semua telah ditentukan oleh pusat, sehingga menurut saya ini justru mematikan atau mengurangi kreativitas guru dalam melakukan kegiatan belajar mengaajarnya. walaupun ini dimaksudkan agar seluruh dokumen kurikulum baik silabus maupun bahan ajar yang tersebar diseluruh daerah itu memiliki keseragaman sesuai dengan yang diberikan pusat tapi karena juga keseragaman ini menjadikan menyetarakan seluruh sekolah yang ada padahal tidak semua sekolah bisa mengikuti dokumen yang diberikan oleh pusat hal ini dikarena setiap sekolah yang satu dengan yang lain itu berbeda kemampuan dan potensinya sendiri sendiri. Karena penyeragaman ini juga menjadikan pengembangan sekolah menjadi lamban karena sekolah maupun guru tidak mempunyai kewenangan untuk mengubah dokumen tersebut sesuai dengan kemampuan sekolah itu.
Menurut saya seharusnya setiap daerah, sekolah ataupun satuan pendidikan itu diberikan kebebasan untuk mengembangkan silabus dan bahan ajar yang terdapat dalam kurikulum untuk disesuaikan dengan potensi dan daerahnya sendiri karena setiap sekolah di daerah itu memiliki potensi dan keadaan daerah yang berbeda-beda sehingga dalam penyusunan maupun pengembangan silabus dan bahan ajar hendaknya sekolah/ satuan pendidikan di setiap daerah diberikan keleluasaan sehingga lebih dapat menyesuaikan potensi serta keadaan yang ada di setiap daerahnnya. Tetapi, di sini pusat dapat memberikan pokok-pokok isi daripada silabus sebagai arahan bagi sekolah/satuan pendidikan dengan tidak melarang/memberikan kebebasan bagi sekolah/satuan pendidikan untuk mengembangkannya sendiri. Dengan demikian setiap sekolah akan senantiasa berusaha meningkatkan mutu pendidikannya.

Kurikulum Ktsp
                           Dalam kurikulum Ktsp ini menurut saya mengalami kemajuan daripada dengan kurikulum yang lama dalam KTSP lebih memberikan kebebasan dan keleluasaan bagi daerah dan sekolah atau satuan pendidikan untuk menyesuaikan potensi yang ada di daerahnya. Hal ini dikarenakan pusat hanya menentukan dan mengembangkan komponen dan materi pokok minimal, sedangkan Silabus dan bahan ajar direncanakan dan dikembangkan  oleh sekolah atau satuan pendidikan. Selain itu, Semua diserahkan kepada daerah, satuan pendidikan, dan guru sesuai dengan kebutuhannya, asal memenuhi standar minimal yangditentukan. Sehingga dalam KTSP ini lebih lebih mengakomodasi setiap daerah, sekolah maupun satuan pendidikan untuk dapat mengembangkan potensi yang ada sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan di masing-masing sekolah di daerah.
   Dari segi isi/konten
Kurikulum Lama
                           Menurut saya jika dari segi isi/konten dari kurikulum yang lama materi yang padat dan tumpang tindih menjadikan baik itu guru maupun murid menjadi kebingungan tentang materi manakah yang tepat untuk digunakan dalam kegiatan belajar karena antara materi yang satu dengan materi selanjutnya tidak terjalin suatu kesinkronan. Selain itu terlalu banyak hafalan menjadikan murid merasa terbebani dengan materi yang ada, dari banyaknya materi yang dihafalkan ini juga menjadikan murid tidak bisa mengembangkan pola sikap ilmiah.
Kurikulum Ktsp
Dari segi materi dalam kurikulum yang baru ini dibentuk  untuk mengarah pada kompetensi yang dituntut. Karena berbasis kompetensi, maka materi pokok bukan hafalan, tetapi mengarah pada kompetensi yang dituntut seperti yang  diperagakan. Hal ini terlihat pada ada kewenangan sekolah untuk mengubah dokumen yang diberikan oleh pusat asalkan tidak menyimpang dari SKL dan SK yang ada. Dalam setiap kompetensi kurikulum Ktsp ini tidak hanya mementingkan aspek kognitif saja tapi juga dari segi afektif dan juga psikomotorik, contohnya dalam setiap SK dalam kurikulum Ktsp ini harus mencantumkan ketiga aspek tersebut untuk mencapai SK.
Dari segi persiapan
Kurikulum lama
Guru diminta mempersiapkan AMP (Analisis Materi Pelajaran), Program Tahunan, Program Catur Wulan, Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pembelajaran. Ini menurut saya sudah cukup bagus karena sudah adanya keteraturan didalam persiapan guru menghadapi siswa dalam KBM, yang menjadikan KBM tercapai secara maksimal dan terarah.
Kurikulum Ktsp
Guru diminta membuat Silabus, Program Tahunan, Program Semester,  Rencana /Skenario Pembelajaran, dan Bahan Ajar. Menurut saya hal ini merupakan sebuah penyempurnaan dari segi persiapan dari kurikulum yang lama dimana adanya keterlibatan guru dalam penyusunan silabus yang menjadikan guru bisa mempersiapkan materi bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum dan kemampuan siswa dalam lingkup guru tersebut.

Dari segi proses
Kurikulum lama
   Menurut saya materi yang tumpang tindih dalam kurikulum yang lama ini cukup menyulitkan guru dan siswa karena tidak adanya kesinkronan antara materi yang satu dengan materi yang selanjutnya, Terdapat kesamaan atau kemiripan materi satu dengan materi yang lainnya, seperi halnya telah diajarkan pada kelas satu kemudian pada kelas tiga akan ada lagi sehingga menyulitkan dan memperbanyak materi yang telah ada sehingga kurang efektif dan efisien materinya selain itu juga kesannya terlalu banyak, kelebihan materi yang menyebabkan pengulangan materi sehingga siswa akan mencapai kebosanan dengan materi yang tumpang tindih maupun kelebihan itu dan akan membuang waktu, tenaga, pikiran saja jika sebelumnya materi telah diajarkan. Dan dalam pelaksanaan kurikulum yang lama ini kurang memperhatikan learning to know, learning to do, learning to  live together, & learning to be secara proporsional hanya berisi tentang materi yang sifatnya hafalan saja. Lebih dan kebanyakan  hanya pada learning to know. Berhubung kurikulum lama yang dalam proses pembelajarannya masih terpaku hafalan dan materi-materi yang sangat banyak, sehingga tidak memperhatikan belajar untuk melakukan sesuatu dengan sikap dan perilakunya yang telah dibimbing guru, belajar bersama akan tetapi hanya sebatas belajar untuk mengetahui, mengetahui ilmu dan pengetahuan saja tidak ada upaya lebih atau tindak lanjut dalam itu semua dan terbatas pengetahuan sehigga menyebabkan siswa dalam proses pembelajaran akan sangat susah menjadi siswa yang maju dalam belajar.
Formulasi dan pelaksanaan kurikulum kurang memperhatikan keutuhan aspek kognitif, afektif, & psikomotorik yang hanya menjadikan siswa unggul dari aspek kognitif saja tidak ada peningkatan dalam hal aspek afektif dan psikomotorik. Siswa dalam proses pembelajaran pada kurikulum lama, siswa itu cenderung pasif, karena disini guru yang aktif dalam pembelajaran, siswa hanya sebagai obyek pendidikan yang hanya menerima materi saja dari guru tidak berhak untuk lebih dan sangat statis tidak menjadikan siswa berkembang dalam pembelajaran maupun dalam pola pikir dan seperti hanya menerima saja dari guru.
Siswa sebagai obyek pendidikan dalam proses pembelajaran. Kecakapan hidup (life skill) kurang terakomodasi dalam kurikulum dan proses pembelajaran, karena mengejar  target kurikuler. Berorientasi pada proses dan target kurikulum dan terlebih lagi pada konsep kurikulum dulu, itu mengejar proses pembelajaran dan kurikulum tanpa memperhatikan unsure di dalamnya baik dari segi materi pelajaran ataupun kondisi siswa asalkan dapat terpenuhi target tersebut, padahal sesungguhnya target itu semua bukan sebuah tujuan utama lebih pentingnya lagi memperhatikan unsur untuk pendukung dalam proses pembelajaran dan target kurikulum
Kurikulum Ktsp
               Guru diberi kebebasan berkreasi dalam mengembangkan secara kreatif materi pokok  untuk mencapai kompetensi yang ditentukan, selain itu juga sudah sesuai dengan kompetensi yang ingin diraih siswa meskipun sekarang ini dalam kenyataannya juga masih ada overlapping. Akan tetapi dapat mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan tidak terpatok pada hafalan saja dan telah sesuai dengan kompetensi siswa.
               Kesemua itu diakomodasikan secara integratif dan proporsional, maksudnya dalam Ktsp telah diterapkan bagaimana proses belajar itu dihadapkan untuk proporsional dan secara kesatuan utuh, keseluruhan dari segala aspek belajar, baik belajar untuk mengetahui dan dilanjutkan belajar untuk melakukan, hidup, dll berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai siswa. Didalam kurikulum Ktsp ini semua formulasi pelaksanakan pembelajaran diarahkan untuk mencapai ketiga kompetensi itu secara berimbang yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik, akan tetapi dewasa ini juga dapat kita lihat banyak sekolah yang juga belum menerapkan aspek psikomotorik pada siswanya apalagi dalam pelajaran PKn.
Akan tetapi di Ktsp siswa dituntut untuk menjadi subyek atau pelaku dalam pendidikan, disini guru hanya sebatas memfaslitasi siswa sehingga siswa diharapkan lebih maju, inovatif dan kreatif dalam pembelajaran dan siswa menjadi aktif terbuka pola pikirnya sehingga timbl rasa bersaing sehat dalam pembelajaran, dan seluruhnya itu berorientasi pada kegiatan siswa, guru hanya fasilitator untuk siswa agar pembelajaran berpusat oleh siswa.
Terakomodasi secara terpadu dan proporsional dalam kurikulum dan pproses pembelajarannya. kurikulum Ktsp sudah berorientasi untuk ditujukan dalam pengakomodasian life skill siswa guna kompetensi yang dicapai sesuai dengan kecakapan hidup siswa karena sudah memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan, kecakapan belajar, maupun konteks social budaya, pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi siswa yang dapat meningkatkan kecakapan hidup siswa.Berorientasi pada ouput kompetensi siswa pada kurikulum Ktsp yang tidak hanya mementingkan pencapaian target saja akan tetapi hasil atau keluaran siswa itu, jadi disini memperhatikan bagaimana cara atau upaya guru dan sekolah dalam membentuk hasil keluaran siswa yang baik sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dalam proses pembelajaran dan kurikulum. Meskipun sekarang ini juga masih banyak sekolah yang berorientasi target samapai tanpa memandang hasil keluaran siswa yang baik. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar