Label

Senin, 14 Mei 2012

“PERBANDINGAN GEOPOLITIK DAN GEOSTRATEGI IRAN SEBELUM DAN SAAT AHMADIJENAN BERKUASA”



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

            Dalam studi hubungan internasional (HI), geopolitik merupakan suatu kajian yang memandang hubungan internasional dari sudut pandang ruang. Konteks di mana hubungan itu terjadi secara bervariasi dalam kerangka fungsi interaksi, lingkup wilayah, dan hirarki aktor dari lingkup lokal, nasional, internasional, sampai benua-kawasan, bahkan internasional-global. Geopolitik mengkaji makna strategis dan politis suatu wilayah geografi, yang mencakup lokasi, luas serta sumber daya alam wilayah tersebut, sedangkan geostrategi adalah pelaksanaan geopolitik dalam negara, lebih lanjut geostrategi didefinisikan sebagai kebijakan untuk menentukan sarana-sarana, untuk mencapai tujuan politik dengan memanfaatkan konstelasi geografi.[1] Sebagai akibatnya geostrategi menjadi upaya menguasai sumber daya untuk tujuan kelangsungan hidup bangsa.

 Geopolitik dan geostrategi mempunyai empat unsur yang membangun, yaitu keadaan geografis, politik dan strategi, hubungan timbal balik antara geografi dan politik, serta unsur kebijaksanaan. Dalam makalah ini penulis memfokuskan kajian geopolitik dan geostrategi pada satu negara tertentu yaitu Iran beserta pengaruh idiosinkratik dari pemimpinnya yang sangat berpengaruh saat ini, Presiden Ahmadinejad. Peran sebagai presiden memang saat penting di Iran, apalagi paska penghapusan perdana menteri saat berevolusi menjadi negara republik. Alasan pemilihan tema ini adalah didasari oleh kepemimpinan kontroversial dari figur tersebut, mulai dari kebijakan geopolitik dan geostrategi Iran, reformasi pemerintahan, berbagai pernyataannya yang mengundang sorotan dunia dan berbagai keberhasilan yang membuatnya kembali terpilih pada pemilu 2009 ini.[2]

Hal penting yang perlu dipertanyakan disini adalah seberapa besar faktor idiosinkratik Ahmadinejad berpengaruh pada pengambilan kebijakan geopolitik dan geostrategi dari negara Iran serta bagaimana prospek Iran ke depannya? Apakah mengalami stagnasi atau justru Ahmadinejad membawa “sejuta” ide revolusioner lainnya untuk menaikkan posisi tawar Iran dalam kancah perpolitikan internasional?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, penulis mengajukan beberapa pendekatan, diantaranya adalah penggolongan masukan (cluster of inputs) yang merupakan pemikiran James N. Rosenau.[3] Dimana penempuh studi mengenai kebijakan dapat memilih dan menggabungkan faktor yang paling penting dan patut diberi perhatian dalam menjelaskan perpolitikan suatu negara yang diteliti-sistemik, masyarakat, pemerintahan dan idiosinkratik. Hal ini juga didukung oleh pengklasifikasian Howard Lentner mengenai determinan luar negeri dan determinan domestik, dimana faktor individu termasuk didalamnya.[4]

Pendekatan kedua adalah dari aspek geopolitik dan geostrategi yang merupakan variabel yang dipengaruhi dalam permasalahan di atas. Untuk memberi gambaran dan bukti tentang nilai strategis Iran sehingga layak untuk ditelaah lebih mendalam karena menjanjikan prospek yang bagus, baik dari segi wilayahnya maupun potensi teknologi dan sumber dayanya seperti minyak, gas alam dan nuklir.

Sebagai penguat argumen ini penulis bersandarkan pada teori Mackinder tentang Eurasia yang merupakan kunci untuk menguasai dunia- Iran termasuk di dalam kawasan tersebut. Serta teori Karl Haushofer tentang Wehrgeopolitik yang rawan konflik, karena posisi Iran yang berada diantara Timur dan Barat. Dari sekilas pandang pada konsep di atas, maka penulis melihat ada keterkaitan erat idiosinkratik peran presiden Iran pada pembuatan kebijakannya terkait aspek geopolitik dan geostrategi Iran, baik melalui pemanfaatan media teknologi dan sumber daya alam yang dimiliki.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Geopolitik dan Geostrategi Iran

            Aspek geografis adalah sebuah anugerah atau pemberian berbeda dengan konteks perpolitikan yang selalu berubah. Jadi sangat beruntung sekali Iran karena  berada di persimpangan Timur Tengah, Asia Barat dan Kaukasus. Dimana bagian utara Iran bertetangga dengan Armenia, Azerbaijan, Turkmenistan, bagian timurnya bersebelahan dengan Afganistan dan Pakistan, sedangkan sebagian besar sayap baratnya berhimpitan dengan Irak dan sebagian kecilnya dengan Turki.

Teluk Persia membentang di barat daya Asia di antara Iran dan Jazirah Arab dan Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Letak Iran di pusat Eurasia inilah yang selama ribuan tahun menjadikan Iran bagaikan “menara pengintai” sekaligus benteng pertahanan Timur ataupun Barat. Sehingga setiap kali suatu kekuatan dari Barat hendak menyerang belahan Timur atau sebaliknya, maka ia akan menjadikan Iran sebagai garis depan.

Bila mengikuti pola berpikir Karl Haushofer tentang Wehrgeopolitik, posisi geografis yang sedemikian ini menjadikan Iran sebagai daerah rawan gesekan. Kenyataan geopolitik ini membuat bangsa Iran selama berabad-abad menjadi saksi berbagai perang besar sekaligus terlibat dalam banyak peperangan, salah satunya adalah antara Inggris melawan Rusia dan India. Keberadaan Iran di Eurasia (Eropa dan Asia) juga merupakan hal yang penting karena merupakan bagian ”heartland” yang dimaksud Mackinder, sehingga barangsiapa yang menguasainya akan dapat menguasai dunia. Heartland banyak diperebutkan karena sumber daya alamnya yang potensial di bidang energi seperti minyak bumi dan gas.


Dalam geostrategi energi, posisi geografi Iran memang sangat menguntungkan karena memiliki akses ke Laut Kaspia yang mengandung potensi kekayaan minyak dan gas. Iran secara otomatis menjadi salah satu negara vital yang dilewati oleh pipa-pipa minyak dan gas menuju Asia, seperti ke India, Pakistan, dan China. Di samping itu Selat Hormuz juga dilalui oleh kapal-kapal tanker pengangkut minyak sedunia. 
          
  Selain memiliki posisi wilayah yang strategis di Timur Tengah, Iran adalah negara yang kaya akan sumber energi. Iran adalah salah satu negara anggota OPEC yang mempunyai potensi minyak Khuzestan dan gas yang luar biasa terutama di Pars Selatan (280-500 Tcf kandungan cadangan gasnya dan 17 miliar barrel kandungan minyak). Melihat kondisi geostrategi dan geopolitik energi yang dimiliki Iran maka sangat wajar jika Iran menjadi incaran Amerika Serikat (AS).

Hal ini didukung oleh pernyataan Prof Michael T Clare, penulis buku Blood and Oil, apa pun alasan yang dikemukakan AS untuk menggulingkan Pemerintah Iran saat ini, baik nuklir, rezim pemerintahan yang tiran, pelanggaran HAM ataupun terorisme, motif utamanya adalah menguasai sumber minyak bumi negara tersebut. Selain itu, AS mengincar Iran karena tidak ingin dominasinya di Timur Tengah terganggu disebabkan Iran yang kaya akan sumber alam yang sedang melakukan ekspansi geopolitik dan ekonomi di kawasan Eurasia bersama Rusia dan China untuk melakukan bisnis listrik-kedua negara tersebut memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan AS di masa lalu dan melakukan banyak persaingan di masa sekarang.

AS semakin jengkel dengan Iran karena telah meluncurkan pusat perdagangan minyak alternatif dengan menggunakan mata uang Euro yang menjadi ancaman bagi dominasi rezim mata uang Dollar Amerika di dunia. Hal penting yang bisa ditarik dari pemaparan di atas adalah tentang kemungkinan terbesar AS menyerang Iran adalah karena pragmatisme kepentingan belaka, karena dalih keberadaan senjata pemusnah massal juga pernah dituduhkan ke Irak namun sampai sekarang belum terbukti. Apalagi dari pihak IAEA sendiri pun mengatakan bahwa Iran murni melakukan pengembangan energi untuk menyuplai listrik di negaranya, sama sekali tidak ada indikasi ke arah pembuatan senjata. Jadi pada era kontemporer ini, pemikiran geopolitik Iran  lebih pada orientasi energi yaitu bagaimana memanfaatkan minyak yang dimilikinya untuk kemudian juga disatukan dengan kekuatan nuklir.

2.2 Pengaruh Idiosinkratik dalam Geostrategi dan Geopolitik

            Pergeseran orientasi geopolitik Iran yang dulunya ditekankan pada pengembangan supremasi transportasi dan pertahanan darat serta udara menuju energi, tak lain adalah pengaruh kebijakan kepala negara Iran di era kontemporer salah satunya adalah Ahmadinejad. Idiosinkratik-pengalaman, bakat, kepribadian, persepsi dan kalkulasi serta perilaku- Nejad meliputi: meraih gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi,sehingga wajar bila dalam pemerintahannya dipusatkan pada kelanjutan pengembangan energi nuklir yang sudah ada sejak era Shah Reza Pahlevi; sebelum menjabat sebagai presiden, Nejad bekerja menjadi dosen, pernah bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam pada tahun 1986, menjadi wakil gubernur dan gubernur Maku dan Khoy, Penasehat Menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, dan gubernur provinsi Ardabil, dan walikota Teheran.

            Sikap dan perilaku sederhana Nejad bukan berarti menunjukkan sosok pribadi yang lemah, Nejad termasuk tipikal orang yang cenderung konfrontatif daripada kompromis dalam menyikapi aksi AS yang menyebut Iran sebagai bagian Axis of evil karena menyeponsori tindak terorisme di Afganistan dan Lebanon. Ahmadinejad tidak diam begitu saja atas tuduhan tersebut, ia sempat melakukan konfirmasi bahwa Iran sebagai negara Islam yang cinta damai justru mendukung tindakan pemberantasan terorisme.

Hal ini ditegaskan pada pasal 154 UUD Republik Islam Iran yang menyatakan:“Republik Islam Iran beraspirasi untuk kebahagiaan manusiawi dalam lingkungan umat manusia serta mengakui kemerdekaan, kebebasan,  keadilan, dan kebenaran sebagai hak-hak yang harus dinikmati oleh semua manusia sedunia. Kemudian untuk  tuduhan lain yang dilontarkan yaitu seputar pengembangan nuklir, Ahmadinejad sempat memberikan pernyataan terbaru paska terpilihnya kembali sebagai Presiden Iran, yaitu Iran hanya mau membahas kerjasama untuk mengatasi maslah global dan tidak mau membahas lagi masalah nuklir. Semua resiko termasuk ancaman tiga embargo sekaligus, sama sekali tidak menyurutkan ambisi tersebut, apalagi keputusannya didukung oleh mayoritas warga Iran dan Khomeini sebagai ulama dan pemimpin agung.

Bila ditinjau lebih jauh, alasan Iran mengembangkan nuklir adalah urusan dalam negerinya, sehingga AS tidak berhak untuk mengintervensi. Apalagi non proliferation treaty (NPT) membenarkan para penanda tangan untuk menggunakan nuklir guna pembangkit listrik. Mengapa Iran tidak dibenarkan saat negara lain sudah melakukannya? Padahal India yang bukan penandatangan NPT justru malah  ditawari Washington akses luas pada teknologi nuklir AS. Bagaimana mungkin seluruh dunia mengecam Iran yang belum pernah menggunakan senjata nuklirnya-kalaupun ada- dan justru malah mendukung kecaman AS yang jelas-jelas pernah menggunakan bom atom untuk menghancurkan Jepang dalam Perang Dunia II.

Padahal tujuannya sudah jelas dari awal, yaitu karena kebutuhan listrik Iran terus meningkat 7-8 persen per tahun. Pada tahun 2005 kebutuhan mencapai 36.000 Mw. Hanya tujuh persen kebutuhan listrik Iran berasal dari hidroelektrik, sisanya bergantung minyak dan gas, padahal harga minyak terus meningkat. Bukankah sudah menjadi tugas suatu negara bila memenuhi kebutuhan rakyatnya, apalagi peluang bisnis listrik ini bisa dijadikan suatu bisnis dalam skala luas dengan bekerjasama dengan Rusia dan India. Selain itu nuklir memiliki resiko kecil dan tingkat keamanannya terjamin, serta bisa didaur ulang. Cara ini diharapkan akan mengurangi ketergantungan konsumsi minyak yang tidak bisa diperbarui.

Bebagai keberhasilan iptek Iran tersebut tak lepas dari tingginya riset yang dilakukan ilmuwan Iran, mereka melakukan rekonstruksi persenjataan dan teknologi yang mereka impor dari Rusia, Cina dan Korea Utara. Semua alutsista Iran hanya untuk pertahanan saja. Namun komentar Ahmadinejad tentang rencananya menghapuskan Israel dari peta dunia atas konflik Palestina-Israel yang terjadi dan menganggap Holocaus sebagai mitos yang dibuat-buat atau terlalu dilebih-lebihkan- kalaupun terjadi bukan Palestina yang menanggung akibatnya tapi Jermanlah yang mesti bertanggung jawab karena Hitler berasal dari negara tersebut,menimbulkan persepsi ancaman bagi negara lain.

Hal ini dapat dipahami dengan upaya pengonstruksian pemikiran suatu negara saja, bila suatu negara menginginkan damai maka bersiap-siaplah untuk damai bukan bersiap siap untuk perang (Civis pacem para pacem). Hal ini juga dikomentari Nejad saat sesi tanya jawab di Universitas Columbia: ”Tidakkah anda berpikir bahwa banyak permasalahan di dunia ini datang dari cara anda memandang isu-isu, dari cara berpikir macam ini, dari pendekatan pesimistis semacam ini terhadap banyak orang, dan dari level tertentu egoisme. Semua itu harus dikesampingkan sehingga kita dapat menunjukkan rasa hormat kepada setiap orang, membiarkan sebuah lingkungan persahabatan untuk tumbuh, membiarkan semua bangsa untuk berbicara satu sama lain, dan bergerak ke arah perdamaian?”

            Sangat menarik sekali memang membahas idiosinkratik tokoh ”sekaliber” Ahmadinejad, yang bisa berbicara sekaligus bisa membuktikannya. Ada beberapa keberhasilannya yang bisa dijadikan contoh oleh negara lain,yaitu berani menolak intervensi negara lain, karena ini menyangkut kedaulatan; untuk urusan dalam negeri Ahmadinejad  melakukan beberapa program baru seperti penggunaan smart card untuk mengurangi konsumsi minyak, sehingga produksi yang dihasilkan bisa diekspor, safari kunjungan ke berbagai daerah sekaligus menyelesaikan permasalahan yang ada di tempat itu juga, pemangkasan prosedur birokrasi dan tradisi seremonial demi kepentingan rakyat, memegang rekor kepemimpinan yang paling aktif yang dibuktikan dengan berbagai proyek besar bagi pengembangan ekonomi Iran. Hal itu dilaksanakan di tengah-tengah perubahan radikal yang dilakukan di badan pemerintah dan rintangan-rintangan yang dihadapi pemerintah, khususnya masalah politik luar negeri. Hal ini meningkatkan antusiasme dukungan dan kepercayaan rakyat yang terus mengalir bahkan saat pemilu 2009 ini.

            Namun bukan berarti pemerintahan Nejad tidak ada hambatan, pada saat penerapan smart card banyak rakyat yang mengecam dan terjadi kerusuhan dimana-mana karena penerapannya hanya 2 jam setelah diumumkan.Berbagai unjuk rasa juga mewarnai hasil pemilu 2009 lalu, karena tuduhan kecurangan Nejad yang dilakukan pesaingnya Mousavi. Khomeini sebagai pimpinan agung menyatakan bahwa perhitungan pemilu tidak perlu diulang, karena kerusuhan yang terjadi ini hanyalah provokasi oleh negara luar.

Semestinya Mousavi ”legawa”atas kekalahannya itu dan bersedia menjadi oposisi untuk mengawasi pemerintahan Ahmadinejad ke depannya untuk masa depan Iran yang lebih baik, bukan malah mengerahkan massanya. Kemudian gaya bicara Nejad yang terlalu percaya diri dan radikal dapat dimanfaatkan oleh negara lain untuk menghancurkan Iran. Hal ini terbukti dari ungkapan Israel yang senang karena Nejad terpilih kembali, dengan begitu tekanan internasional akan terus berlanjut di Iran, begitu pula dengan badan intelijen AS yang menyatakan bahwa Nejad adalah informan berharga karena setiap informasi yang dibutuhkan AS keluar dengan lugas dari mulutnya.

Berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, yaitu Khatami yang lebih lunak pada AS dan Israel dan aktif dalam PBB. Bila dibandingkan dengan Nejad, Khatami ini merupakan seorang intelektual, filosof, dan politikus Iran. Ia tampil keempat sebagai Presiden Iran pada periode 1997-2005 dan digantikan Mahmoud Ahmadinejad. Sebagian besar memilih Khatami karena janjinya untuk meningkatkan status wanita dan tanggap akan permintaan generasi muda Iran. Khatami dianggap sebagai presiden reformis pertama di Iran karena kampanyenya memfokuskan pada penegakan hukum, demokrasi dan pencakupan seluruh rakyat Iran dalam proses perencanaan politik.

Hal ini sering bertentangan dengan pemikiran kaum garis keras yang mayoritas menjadi pejabat di Iran. Celah ini dapat tertutupi dengan agresivitas Ahmadinejad dalam menanggapi isu dalam maupun luar negeri. Program Khatami sebenarnya tak berbeda jauh dengan Nejad namun pelaksanaanya kurang cepat dan nyata, seperti masalah pembangunan pemukiman warga. Dari beberapa fakta yang disajikan dan beberapa argumen pribadi penulis, sudah jelas sekali bila Iran identik dengan Ahmadinejad termasuk aspek geopolitik dan geostrateginya di era kontemporer. Hal ini bisa disamakan dengan profil Hitler yang identik dengan Jerman dan Kim Il Sung dengan Korutnya.



BAB III
PENUTUP

3.I Kesimpulan

            Prospek geopolitik dan geostrategi Iran ke depannya, sepertinya masih sama yaitu melanjutkan pengembangan nuklir dengan lebih progresif, hal ini sebagai bentuk untuk menggalang dukungan dari simpatisan Mousavi dan rakyat Iran lainnya paska pemilu; membatasi konsumsi minyak dalam negeri dan memaksimalkan ekspor, pengintesifan hubungan dengan Rusia, Cina bahkan India karena Iran ditunjuk sebagai observer dari SOC-organisasi kerjasama damai antara tiga negara tersebut dengan Asia Tengah; Hubungan dengan AS hanya terkait dibidang pemberantasn terorisme dan perdagangan; sedangkan dengan Israel, Iran masih konsisten menerapkan strategi ofensif sebagai suatu solidaritas atas pelanggaran HAM, pelanggaran kedaulatan dan pengusiran warga asli palestina. Selain itu gaya konfrontatif dengan barat juga masih berlanjut sehubungan dengan penolakan imbalan keuangan dan akses perdagangan yang ditawarkan Obama.
          
Karisma Nejad dan solidnya dukungan di tingkat akar rumput serta restu dari ulama sekaligus pemimpin tertinggi Iran, ditambah dengan pemaksimalan potensi dalam negeri yang responsif akan berbagai peluang dan tantangan internasional adalah kunci Iran bisa berhasil dan sukses seperti sekarang.  Meskipun didera embargo puluhan tahun dan persaingan yang dinamis dalam tatanan dunia anarki, Iran sanggup bertahan dan berdiri ”dikakinya sendiri”. Bukan suatu keniscayaan lagi bila periode kedua Nejad menjabat, perekonomian Iran beralih dari berkembang menjadi maju.







DAFTAR REFERENSI

Harian Seputar Indonesia edisi 25 April 2008
Harian Tempo edisi 26 April 2008
http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6243644.stm diakses 29 September 2010
http://www.suaramerdeka.com diakses 29 September 2010
Mahmoud Ahmadinejad di globalsecurity.org diakses pada 29 September 2010
I. Hidayat, Mardiyono. 1983. Geopolitik, Teori dan Strategi Politik dalam Hubungannya dengan Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam. Surabaya Usaha Nasional.
Iran  CIA map.jpg  diakses 29 September 2010
Iran in The World Fact book 2007
Lenczowski, George. 2003. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Bandung : Sinar Baru Algensindo
Lentner, Howard. 1974. Foreign Policy Analysis: A Comparative and Conceptual Approach. Ohio: Bill and Howell Co.,hal.18.
Notulensi Pidato Ahmadinejad di Universitas Columbia diakses 29 September 2010
Pesona Iran oleh Musthafa Abd Rahman diakses melalui www.bbcnews.com diakses 29 September 2010




[1]    Mardiyono I. Hidayat. 1983. Geopolitik, Teori dan Strategi Politik dalam Hubungannya dengan Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam. Surabaya Usaha Nasional.
[2]    Ibid.
[3]     Howard Lentner. 1974. Foreign Policy Analysis: A Comparative and Conceptual Approach. Ohio: Bill and Howell Co.,hal.18.
[4]     Ibid. hal. 105-171
[5]     http://islamalternatif.net/iph/content/view/166/ diakses 30 September 2010
[6]     George Lenczowski. 2003. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Bandung : Sinar Baru Algensindo
[7]     Iran  CIA map.jpg  diakses 21 Juni 2009
[8]     Op cit
[10]   Iran in The World Fact book 2007
[11]   http://www.suaramerdeka.com diakses 30 September 2010
[12] Mahmoud Ahmadinejad di globalsecurity.org diakses pada 30 September 2010
[13]   Ibid.
[14]   Pesona Iran oleh Musthafa Abd Rahman diakses melalui http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0110/03/LN/peso03.htm pada 30 September 2010
[16]   Notulensi Pidato Ahmadinejad di Universitas Columbia diakses 30 September 2010
[17]   Ibid.
[18]   Harian Seputar Indonesia edisi 25 April 2008 dan Harian Tempo edisi 26 April 2008
[20]   http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6243644.stm diakses 29 September 2010
[21]      www.bbcnews.com diakses 29 September 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar