Label

Senin, 14 Mei 2012

MEMIMPIN DI PENTAS DUNIA




Pemimpin Yang Nasional Dan Internasional
Kita sebagai bangsa, sebagaia Negara dan sebagai budaya harus menyambut pertautan abdi “nasionalisme” dan “Internasionalisme” yang kita alami sekarang ini dengan sikap beranmi dan penuh percaya diri. (Juwono Sudarsono)
SBY adalah seorang nasionalis tulen, dan dalam hal ini beliau tidaka beda dari mayoritas pemimpin Indonesia lainnya. SBY sangat bangga dan sangat mencintai bangsa dan negaranya.namun ada asatu hal yang saya lihat sangat menonjol dalam diri SBY dan membedakannya dari yang lain : semangat internasianalisme. Kalau nasinalisme dapat diibaratkan sebagai kebanggan menjadi orang Indonesia, internasionalisme adalah semangat untuk go internasional.
Pemimpin yang internasionalis yakin seyakinnya bahwa pergaulan internasional dapat mengubah bangsa kita menjadi lebih kuat dan maju. Kedua konsep ini baukan bertentangan, malah bersandiagan. SBY serong mengutip Bung Karno “Internationalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berpijak dalam buminya nasionalisme dan nasionalisme tidak akan hidup subur jika tidak berada dalam taman sarinya internasionalisme”.

Pemimpin yang menyentuh hati dan menyembuhkan luka
Pembelajaran bagi diplomat Indonesia tugas mereka bukan saja untuk menjaga hubungan dengan pejabat pemerintah setempat, namun juga untuk belajar bergaul dan menyentuh hari rakyat dimanapun mereka berada. Dan caranya tidak terlalu sulit asal kreatif, bertuajuan baik, dan harus datang dari hati.
Ada kalanya pemimpin juga harus menyembuhkan luka. Hal ini biasanya berlaku bagi pemimpin yang negaranya mengalami konflik, baik internal maupun eksternal. Apabila sudah menjadi luka sejarah, bukan lagi luka biasa, maka pengibatannya akan sulit sekali dana bisa memakan waktu lama.

Percaya diri dalam mengambil sikap   
Satu hal yang sama dari para pemimpin ini ; rasa percaya diri yang tinggi. Tanpa rasa percaya diria, pemimpin tidak akan efektif. Setiap pemimpin pasti juga mengalami rasa ragu di dalam hati, namun dari luar ia tetap harus tampil yakin. Setiap pemimpin mempunyai teknik yang berbeda untuka menambah rasa percaya diri.
Dan kepemimpinan yang didasarakan pendirian selalu lebih baik dari kepemimpinan yang didasarkan oportunitisme yang mengabaikan prinsip.

Menanam dan memanfaatkan political capital dalam diplomasi
SBY sadar bahwa political capital, seperti uang dan investasi, tidak bisa dihambur-hamburkan, dan harus dipergunakan secara aselektif. “Kalau dipakai, harus berhasil,” begitu SBY selalu mengingatkan pembantunya. Satu isu dimana SBY berjuang keras adan berhasil adalah mengenai pembentukan east asian summit (KTT Asia TImur).
Bahwa untuk menanam dan membangun political capital di luar negeria, pertanyaan yang terpenting bukanlah “What can you do for me?” tapi “what can I do for you?” Pemimpin yang bertanya “What can I do for you” otomatis bermain dalam liga yang berbeda dari pemimpin yang melulu hanya bertanya “What can you do for me?”

Mengukur sejarah diplomasi di Bali
Setiap diplomat mendambakan untuk menjadi saksi suatu momen sejarah yang akan membekas seumur hidup. Yang pasti, tidak semua diplomat beruntung menemukan momen emas itu. Hari itu, seluruh perhatian dunia tertuju pada Indonesia, tepatnya di Bali. Di sinilah sedang diadakan UN conferene on climate change (UNCCC), konferensi internasional terbesar yang pernah diselengarakan di Indonesia.
Tahun 2007 bisa disebut sebagai tahun perubahan iklim. Sewaktu the earth summit menghasilkan konvensi Rio tahun 1992, masalah lingkungan hidup masih merupakan isu abstrak di benak sebagain besar penduduk dunia – disadari penting, tapi tidak mendesak.

Menggagas ide, Melahirkan Inovasi
Dalam diplomasi, ada dua keahlian yang penting tapi langka; kemampuan untuk menggagas ide, dan kemampuan untuk menginovasikan ide tesebut. Tidak semua diplomat mempunyai salah satu, apalagi kedua, keahlian ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar