Label

Senin, 14 Mei 2012

MEMIMPIN DALAM KRISIS


MEMIMPIN DALAM KRISIS

Dalam Krisis, Pemimpin Harus Selalu Berada Di Depan
Dalam suasana yang serva tidak menentu itu, Presiden SBY segera mengambil keputusan : “ini keadaan yang serius, dan bisa menjadi krisis nasional, oleh karena itu saya harus segera ke depan”.
Dengan berada di depan, kondisi penderitaan yang luar biasa ini benar-benar masuk ke sukma beliau. Pemahaman seperti ini tidak mungkin didapat beliau kalau hanya membaca laporan tertulis atau mendengar paparan lisan di kantor beliau di istana.
Pemimpin itu Din, bisnisnya mengambil keputusan. Kamu pasti pernah mendengar “Quick to see, quick to decide, quick to take action”. Satu catatan pinggir : saat presiden SBY berada adi Banda Aceh, Amien Rais juga berada di tempat yang sama. Di Bandar udara, dalam nada emosi, Amien Rais member pernyataan bahwa ia “malu” pada bangsa Indonesia dan pada dunia. Tampaknya, Amien Rais tidak puas dengan operasi penyelamatan waktu itu. Pernyataan Amien Rais itu segera menyebar ke seluruh dunia.
Saya dulu kebetulan juga pengagum Amien Rais, namun dari peristiwa itu ada satu pelajaran penting yang saya petik untuk para pemimpin masa adepan; ada masanya dimana semua pemimpin bangsa harus dapat melupakan ego poloitiknya dan bahu membahu menangani suatu krisis nasional.
Ada momen-momen tertentu dimana para pemimpin harus memperlihatkan kepada rakyat bahwa mereka kompak dan bersatu. Hal ini memerlukan kebearan jiwa dan kehati-hatian dalam bertutur kata. Dan saya yakin rakyat Indonesia akan senang apabila melihat para pemimpinnya bersikap seperti itu.

Merespon Masalah Secara Real Time
Dalam masa krisis dimana situasiaa bergulir dengan cepat, satru elemen yang sangat penting adalah respon yang real time. Real time di sini berarti tepat waktu dan tidak tertinggal oleh roda-roda perkembangan kejadian. Seorang pemimpin bisa amembuat respon yang tepat, namun respon tersebut bisa tidak efektif jikalau tyidak dulakukan secara real time.

Setiap Masalah Ada Jalan Keluarnya, Setiap Konflik Ada Solusinya, Setiap Krisis Mengandung Peluang

Mengubah Krisis Menjadi Peluang (1)
Setiap kali menghadapi masalah, SBY sellu mengingatkan orang sekelilingnya; “Setiap krisis menganduang peluang. Setiap masalah ada solusinya.”
Namun presiden SBY sangat yakin bahwa kondisi penderitaan di Aceh membuka peluang untuk perdamaian. Dan peluang ini bukan pintu yang menganga lebar secara pemanen, namun jendela hanya terbuka sedikit dalam sekejap mata “a narrow window of opportunity” istilah SBY.
Disinilah saya melihat ciri kepemimpinan yang penting; selalu berpikir ke depan, selalu mencari peluang dan solusi, selalu memetik pelajaran dari masa lalu. Dalam masa ini, berkali-kali SBY menantang para Menteria dan pembantuanya yang lain “ayo, think outside the box”.

Thinking Outside The Box
Dalam menangani krisis, satu kualiatas yang sangat penting dalam sosok seorang pemimpin adalah kemampuan untuk berpiir di luar kelaziman think outside the box.
Presiden SBY di depan wartawan nasional dan internasional menghimbau dunia agar menunjukkan solidaritas global terhadap para korban tsunami, bukan hanya di Indonesia, namun juga di Negara-negara lain di sekitar samudera India, kebijakan baru ini disebut sebagai “Open door policy”.
Keputusan open door policy ini bukan keputusan yang mutlak. SBY meyatakan “Ayo, think outside the box! Kita harus berpikir terang, ini bukan perang, bukan latihan perang, bukan aliansi, bukan konflik, bukan persaingan geopolitik”. Ini hakikatnya nasionalisme yang sehat, bukan nasionalisme sempit.
Disinilah saya menyadari bahwa salah satu aspek kepemimpinan yang pentinng adalh kemampuan kuntuk membaca situasi dengan tepat dan menilai motivasi orang. Keputusan open sky Presiden SBY membawa sejumlah dampak strategis.

Pemimpin Harus Berani Mengambil Risiko
Keliber seorang pemimpin dapat diukur dari kemampuannya membuat keputusan yang berani. Keberanian iseorang pemimpin dapat diukur dari risiko yang diambilnya; kalau risikonya kecil maka keputusannya biasa-biasa saja; kalau risikonya besar, baru keputusan itu bisa dianggapa berani. Pemimpin yang tidak pernah mengambil risiko tidak akan mencapai prestasi besar.
Dari semua keputusa Presiden SBY, ada dua keputusan abesar yang sangat berani. Pertama, keputusan SBY untuk memulai kembali perundiangan dengan GAM di awal tahun 2005. Kedua adalah tindakan SBY menurunkan subsidi dan menaikkan harga BBM.

THE MAIN PURPOSE OF LIFE IS TO LIVE RIGHTLY, THINK RIGHTLY, ACT RIGHTLY
Do the Right Thing
Pada tanggal 15 Agustus 2007, Indonesia dikejutkan dengan suatu berita yang keji. Raisnya, seorang gadis berumur 5 tahun, diculik oleh sekelompok orang ketika dalama perjalanan pulang bersama pengasuhnya dari TK islam Al-Ikhlas.
Malam itu, setelah menelpon orang tua Raisya, Presiden SBY didampingi Ibu Meuthia Hatta membuat doorstop statement di istana Negara mengenai Raisya. Presiden juga memberikan nomor telepon genggam menteri pemberdayaan perempuan Meutiah Hatta yang dapat dihubungi penculik.
Alhamdulillah, beberapa hari kemdian, saya mendapat kabar dari ali Said bahwa Raisya telah kembali riang dan bahkan telah membuat lukisan untuk Presiden SBY. Sometimes you just have to do the right thing.

Mengubah Krisis Menjadi Peluang (2)
Di akhir Bulan Januari 2008, dunia diguncang oleh krisis ganda. Melonujaknya harga pangan dan minyak sedunia. “Yang kita hadapi ini adalah krisis global, dan untuk menanganinya perlua ada solusi global”.
Disinilah, dengan menyadari kondisi Indonesia yang penuh potensi, Presiden SBY kembali melihat peluang dalam krisis. Presiden SBY memahami benar bahwa visi ini tidak mudah dicapai, dan memerlukan kerja keras dan kebaijakan yang inovatif.
Pada tanggal 17 April 2008, Presiden SBY mengundang sejumlah menteri, BUMN, KADIN, kepala badan pertanahan nasional Dr. Joyo Winoto dan sejumlah tokoh-tokoh industry energy dan pangan Indonesia ke Gedung Agung, Istana Presiden di Yogyakarta untuk melaukan brainstorming.
Pendekatannya harus crisis action management. Kita harus memiliki mental mesi bisa dan harus lebih baik, termasuk dalam menghadapi kendala otonomi daearah yang masih penuh peraturan rumit dan cenderung menghambat gerak laju investasi di daerah. Mental do something lebih baik dari pada do nothing, beliau berkata.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar