Label

Senin, 14 Mei 2012

KEPEMIMPINAN DALAM PERUBAHAN


KEPEMIMPINAN DALAM PERUBAHAN

Penyakit bangsa kita yang paling parah adalah mentalitas kalau bisa dipersulita, kenapa dipermudah.

Dobrak Birokrasi
Saya tidak bisa terima birokrasi yang tidak bisa membaca situasi darurat, yang tidak peka pada pendeitaan rakyat. Saya adalah seorang birokrat, tapi saya adalah orang pertama yang mengakui bahwa masalah utama dalam melakukan perubahan adalah birokrasi.
Hal ini sebenarnya berlaku dimana-mana, baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Untuk diketahui, birokrasi tidak otomatis akan memahami mis presiden terpilih; pertama, karena birokrasi berada di luar proses pemilu dan kedua, pasti akan ada program presiden yang bertabrakan dengan kepentingan dalam tubuh birokrasi itu sendiri.
Kunci dari pekerjaan besar ini tidak hanya terlatak pada kepemimpinan presiden SBY, namun juga pada kemampuan bangsa kita untuk menumbuhkan barisan pemimpin-pemimpin baru yang cemerlang diberbagai lembaga, di berabagai sector, di berbagai daerah, dan di berbagai usia.

Pemimpin Harus Bisa Melakukan Transformasi Diri  
Sejak dilantik menjadi presiden bulan Oktober Tahun 2004, saya melihat ada 4 transformasi diri yang dilakukan SBY. Pertama SBY mentransformasi dirinya menjadi seorang ekonom.
Kedua, segera setelah dilantik, presiden SBYa segera mengalami transformasi menjadi “crisis leader”. Transformasi ketiga, semenjak menjadi presiden SBYa berusaha sekali mendudukan dirinya diatas kepentingan golongan above politics.
Keempat adalah transformasi SBY dari presiden menjadi negarawan internasional. Hal ini awalnya terjadi ketika Presiden SBY mulai menggalang dukungan ainternasional untuk bencana tsunami, terutama dengan diadakannya KTT tsunami awal januari 2005 di Jakarta.

Pemimpin Harus Selalu Bisa Berimprovisasi 
Kita harus memperhatikan dignity kita kepada rakyat dan dunia internasional. Pelatinkan presiden atau perdana Menteria di Negara manapun juga selalu disertai oleh pidato pemimpin yang dilantik. Presiden SBY menyampaikan garis besar agenda, komitmen dan prioritas beliau untuk 5 tahun ke depan. Ada banyak cara untuk improvisasi, namun yang penting adalah jangan lupa tujuan improvisasi adalah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
SBY ingin menulis tinta sejarahnya sendiri tanpa menjatuhkan pendahulunya, karena memang prestasinya sepenuhnya tergantung pada kemampuan dirinya, bukan pendahulunya. Namun sering kali SBY juga memberikan penghargaan pada pemerintahan terdahulu dengan mengatakan bahwa pretasi A adalah jasial kerja yang berkesinambungan dan karenanya merupakan prestasi bersama. SBY juga sering menandasakan bahwa dalam hal hormat menghormatia sesame presiden, beliau akan selalu konsisten.

Mengubah Nasib Abdi Negara Di Bawah
Diawal tahun 2005, SBY memanggil Menteri keuangan Jusuf ANwat ke kantor presiden. Ada satu hal khusus yang ingin dibahas. Bagaimana meningkatkan kesejahteraan pegawai negeria paling bawah.

Energy Positif Versus Energy Negative
Bangsa yang besar adalah bangsa yang energy positifnya jauh melebihi energy negatifnya. Energy negatrif adalah energy yang memancarkan aura buruk dan gelap. Sebaliknya, energy posotif adalah energy yang memancarkan aura sehat.
Tugas utama pemimpin adalah untuk meyebarkan energy positif, dalam skala yang jauh melebihi energy negative bangsanya.
Orang yang berbuat sesuatu – betapapun kekurangannya – akan selalu lebih maju daripada orang yang tidak melakukan apa-apa.

Pemimpin Harus Nasional
Saya pernah menanyakan SBY kenapa beliau tidak menyukai mistik. SBY menjawab : pemikiran mistiak mencerminkan mentalitas jalan pintas – orang yang tidak mau kerja keras, tidak amau berencana, dan hanya mengharapkan solusi dengan cara gaib. Mistik membuat orang amalas, tidak ulet dan tidak bermental tangguh.

Taat system dan peraturan 
Menteri keuangan Sri Mulyani pernah mengaku “sebagai menterinya SBY, saya merasa plong. Tidak ada tekanan batin, dalam bekerja”. Kenapa? Belaiau itu sangat taat dengan system. Dalam menyelesaikan masalaha, SBY selalu tidak pernah mengebiri peraturan dan tatanan. SBY akan merasa nyaman bila proses maupun produk dari kebijakan penting yang diambil sesuai dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang ada. Karenanya, saya merasa sangat terdukung dan tidak ada beban.
SBY selalu mengedepankan system. Beliau sadar sekali bahwa kesalahan yang paling fatal dimasa lalu adalah penguasa lebih berkuasa dari system.

Pemimpin Harus Mencari Solusi Masalah 
Di awal tahun 2007, SBY mengambil keputusan untuk membubarkan consultative group on Indonesia (CGI), yang terdiri dari leboh 30 negara / lembaga internasional. Keputusan tersebut diambil secara spontan begitu SBY melakukan kajian terhadap status dan perkembangan CGI.
Sehari setelah SBY mengumumkan pembubaran CGI, country dorector bank dunia Andrew steer yang juga sahabat lama SBY, menelpin saya dan meminta saya auntuk menyampaikan salam hormat pada SBY osekaligus pendangannya bahwa beliau telah mengambil keputusan yang tepat dan dia sepenuhnya mendukung format baru yang diusulkan presiden.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar