Label

Rabu, 11 April 2012

PUISI CINTA, KELUARGA DAN SAHABAT


'CINTA, KELUARGA DAN SAHABAT'

Kenapa harus diam dan tak nyapa aku??
Kenapa tak perhatian dengan urusanku??
Atau aku yang tak tahu bahwa sebenarnya kamu peduli…
Mungkin egois????Ah tidak….
Dulu….
Betapa seringnya sapamu mampir padaku…
Kini….
Ah…mungkin ada sesuatu yang lain…
Dan bijak saja…
Kuanggap itu hal terbaik yang mo kamu kasih ke aku…
Walo g jelas…
Aku yakin….
Pada satu hal yang hanya kita berdua yang tahu….
Dan semua terasa begitu manisnya…

Sisa percintaan semalam jelas tergambar di beranda hati kita,
Setelah lewati seribu bukit tak berwarna.
Kita membentuk kabut yang penuhi langit-langit kamar sunyi,
Yang terlahir dari sisa nafas.
Kau selalu tersenyum di balik pendar lampu,
Memaki kehangatan jemari di ujung kesunyian.
Tak adakah belaian malam ini? Untuk membangunkan amarah yang pulas tertidur.
Cinta memang kelam, seperti tak ada jalan dalam gua tanpa pelita.
Diluar kamar petir menjadi petaka,
Dan hujan tertawa melihat darah yang meringis dari tubuhmu.
Angin yang belari lewati jendela mengetuk-ngetuk,

Anginpun tersesat ketika harus mencarimu
Menyampaikan salam yang kutitipkan
Daun-daun hanya bisa gugur ketika
Aku menceritakan ini padanya
Baktiku hanya tersisa doa
Sementara, durhakaku kepadamu
Menjadi tumpukan
Sesal dalam hitungan nafas
Yang saat kutuliskan puisi ini
Kau hanya diam membisu
Di balik nisan yang memahat namamu

Ayah akan segera pulang sayang
Membawa rindu yang telah kau pesan
Dalam candamu yang menggemaskan, adakah
Amanat yang kuberikan kau rampungkan
“jaga kedua adikmu, sayang”
: kelak kau akan mengerti kenapa hidup
Mesti berbagi, yang akan kau lewati
Pada perantuan-perantuanmu suatu hari

Kaulah yang selalu berlari ketika ayah pulang
Membuka pintu rumah, lantas berlari memelukku
Melepaskan simpul-simpul penat
Yang telah diikatkan kehidupan pada leher-leher jiwaku
Meramu bahagiaku lewat kecup keningmu
Mengurung keputusasaan yang membelenggu

Seandainya aku bisa menghentikan waktu….
Aku akan menghentikan waktu….
Tapi apa daya… aku tak punya kemampuan itu…
Tak ingin hari ini berlalu…
Tapi apa daya…
Waktu bergulir setiap detiknya…
Seminggu sudah…
Aku merasakan kenangan ini….
Seminggu sudah…
Pada akhirnya harus merasakan perpisahan ini….
Seandainya kau tahu dalamnya hati ini….
Tapi apa daya….
Kau tak tahu…
Benarkah kau akan menjadi kenanganku?
Takut, kenangan itu akan memudar….
Hati ini tak ingin melupakanmu…
Menunggu sampai keajaiban itu datang…
Sampai kapan?
Adakah yang tahu?

Tatapan lembut selalu terlihat ketika aku berbicara
mata itu menyiratkan pengalaman hidupmu
delapan puluh tiga tahun…
masa perjuangan, kemerdekaan, reformasi…hingga kini
bapak lalui dengan penuh kesabaran yang tiada kentara
Dalam perjuangan taklukan bumi, tak pernah kulihat keluhanmu
tiada lelahkah bapak berjalan tanpa daya menggenggam emas?
Berjuang tanamkan kejujuran setiap peristiwa yang dating silih berganti
kauseka peluh keringat selalu disertaidengan senyum puas
bapakku seorang pahlawan kesabaran…
Kini…
Tubuhmu Terbujur Kaku Di Pembaringan, Tak Berdaya…
Menanti Waktu Hentikan Langkahmu
Masih…
Sinar Matamu Lebih Menyimpan Perjuangan Tuk Terus Melangkah
Dalam Ketakberdayaan, Matamu Menyimpan Sejuta Kata
Melalui Cakrawala Buku-Buku Yang Telah Menetap Dalam Jiwamu

 Aku hadir … tlah lama berdiri
Aku untukmu dan harapanku mendalam
Kau mampu merubah indah ini hanya sesaat
Dan redup tuk selamanya
Janjimu terucap namun melukaiku
Kapankah hati ini terus menanti
Bayang-bayang nyata dari ketulusan hati
Memeluk mesra jiwaku kosong
Pastikan matamu tak membohongi mataku
Selalu perihkan jalanku untuk menggapaimu
Dari dirimu … impianku

Terlalu nyata…
Setiap kejadian yang membuatku berpikir
Kau tidak bersua
Diam seribu bahasa…
Pernah kau tahu…?
Diri ini merindukanmu kembali…
Waktu berjalan…
Sudah waktunya aku harus pergi…
3 kata yang ingin kusampaikan…
Tak pernah terucap sampai sekarang…
Kenangan…
Semua telah menjadi kenangan….
Kisah kasih yang mulanya indah
Tak menyangka harus begini akhirnya…

Biar Langit Malam Hitam…
Tak Lagi Pernah, Kerlipkan Bintang
Kau Tetap Ada, Dan S’lalu Setia
Dalam Pesona, Jiwamu Sederhana
Biar Rintikkan Hujan…
Tak Lagi Pernah, Hadirkan Pelangi
Kau Tetap Ada, Sahabat Setia
Tak Kan Terganti, Lukisan Hati Abadi
Walau alam ini indah
Takjub Kunikmati
Namun Semua Hampa
Karena Kau Tiada
Tersenyumlah Alam
Biarkan Kita Bahagia Bersama
Biar Warna-Warni Bunga…
Tak Lagi Pernah, Harum Bermekaran
Kau Tetap Ada, Di Setiap Asa
Ceria Dan Tangis, Berbagi Bersama
Biar Kicauan Burung…
Tak Lagi Pernah, Merdu Terdengar
Kau Tetap Ada, Disetiap Doa
Berjalan Bersama Gapai Ridhonya

Pada garis pena yang aku tulis,
Pada serangkain kata yang mulai lelah,
Tercecer pada secarik kertas
Tergerus oleh sang waktu,
Terombang-ambing menjelma pada satu kata.
Pada lusuh kertas yang  mulai tergilas,
Berontak, tercabik, akan sang senja.
Hai tuan adakah engkau sadar ?
Adakah engkau mulai tergerak ?
Hingar pada bias-bias sang surya
Senja, adakah sejuta rona manjamu?
Tejaring pada ketakutan, birahi sang surya.
Adakah senyum getir pada tiap hidangan malam ku ?
Ooo kau bergumam, aku tlah berlari mencari bayang
Menari hingga ku tersesat pada langkah kelamku.

Di air manis tahun-tahun tanpa tercatat
Seorang anak meraung di antara ruang
Ruh berperang raga, nurani dan harga diri
Mohon ampunan tanpa bisa membela
Kini tahun-tahun berganti
Onggokan batu dan denyut nafsu
Tak pernah pupus, ombak teluk bayur
Mengabarkan petualang yang tak pulang
Berjumpa bunda yang kian senja
Sekian tahun yang akan datang
Barangkali perjalanan tak pernah selesai
Merantau mengubah nasib
Lewat harapan yang tak pernah usai
Barangkali aku
Tetap saja tak pernah bisa bersimpuh
Dan mohonkan ampunan bunda
Karena telah menjadi manusia baru
Pewaris malin yang membatu

 Ketika barisan kata puisi tak mampu menembus balok es hatimu
mambekukan pikiran
malelehkan harapan.
Mungkin dulu aku sempat terbang melayang
memikirkan betapa indah kau ku dekap
dengan sayap putih ku.
Hanya di kesunyianku kau jadi bidadariku
hanya di tidurku kau jadi miliku
Sekarang, esok, dan hari-hari berikutnya
tak ada lagi bidadari dalam kesunyianku.
Hanya kilauan cahaya putih masa lalu yang berterbangan
yang seiring waktu akan jatuh padam dengan sendirinya.
Terlalu senang dan bodoh aku bertepuk sebelah tangan
termakan oleh wewangian dan taman bunga yang indah
yang tak tahu di dalamnya banyak lebah.

Diam tak terdengar kicauan merdu dari bibirmu
karena jauh semakin rindu kicauanmu
terlalu rindu sehingga aku di perbudak oleh akal sehatku dan hati cintaku
untuk menebar tinta pena bertuliskan keindahan dirimu, pesonamu
dan kebesaran tulusnya cintaku.
Karena cintaku padamu tak ada bandingannya,
bahkan dengan kata-kata cinta sekalipun.
Siang terbayang, malam menjelma dalam tidurku.
Api cinta yang engkau bakar di dalam hatiku
tak akan redup atau mati
bahkan terlihat diam bersendiri dalam gelap
dan tak ada hembusan anginpun yang ingin mencoba mematikan api cintaku.
Akan ku tunggu sampai beku mengkristal perasaanku
dan berharap kristal-kristal itu memikat hatinya
dan luluh akan kialauannya.

Pertama dihadapanku
Kau tersenyum tanpa pilu
Namun dibelakangku
Kau sedih dengan rasa bingung
Cinta yang menodai
Mata yang menghiasi
Sendu yang terobati
Dan senja yang dilabuhi
Imajinasiku tertutup oleh bisu
Ilusi dan emosiku menjadi biru
Rasanya ku ingin menipu
Disetiap langkah otakmu
Cinta yang berdiri disana
Membawa api yang membara
Untuk tetap berkasih muka
Dan untuk tetap melapangkan dada
Tangisan airmataku
Yang kuhadi kini
Telah menjadi biru kelabu
Dan takkan terobati
Satu yang kupinta darimu
Tiuplah hembusan kelabu di hatiku

Sore Hujan Tak Jadi
Ini hari ciptakan kelam
Tiada lagi meniti harap
Bagi yang memeluk dan
Yang melepas
Cuma mendengar cerita;
Antara danau, masjid, aspal
Beri cerita seribu duka sepi
Ada juga sepasang walet
Bermain air atasan danau,
Lihatnya mesra ulu hati
Tercekik..
Tersinggung diri, dari mereka
Meliuk di tengah langit hujan tak jadi,
Elek ku punya muram mata air diri
Kini ku sendiri menatap beriak air
Kacakan pengap tampak di wajah
Sisikan iyeng endap lumpur
Biar meluncur air jernih…
Harap punda cinta pengap
Habis tertelan sore hujan tak jadi..



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar