Label

Rabu, 04 April 2012

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI


PERKEMBANGAN PSIKOLOGI

PERKEMBANGAN SEBAGAI PROSES SEUMUR HIDUP
Dari semua mamalia, manusia adalah yang paling imatur saat lahir, memerlukan periode belajar, perkembangan, dan interaksi yang lebih panjang sebelum dapat mencukupi dirinya sendiri. Pada umumnya, semakin kompleks sistem saraf suatu organism, semamin panjang waktu yang diperlukan untuk mencapai kematangan.
Ahli psikologi perkembangan mencoba menjelaskan dan menganalis keteraturan perkembangan manusia sepanjang hidupnya. Mereka meneliti perkembangan fisik, perkembangan perceptual, perkembangan kognitif, dan perkembangan kepribadian dan sosial.
Sebagian ahli psikologi perkembangan memfokuskan pada aspek perkembangan yang menjadikan semua spesies manusia mirip satu sama lainnya, sebagian lainnya memfokuskan pada aspek perkembangan yang mengindividualisasikan manusia dan membuat kita berbeda satu sama lain.

PERTANYAAN DASAR TENTANG PERKEMBANGAN
Para ahli psikologi perkembangan seringkali mempelajari kecepatan rata-rata atau tipikal, proses perkembangan. Sebagai contohnya, pada usia berapa anak rata-rata mulai berbicara ? tetapi ahli psikologi perkembangan biasanya lebih memperhatikan bagaimana dan mengapa di balik data tersebut. Ahli psikologi perkembangan juga mencoba menemukan bagaimana cirri-ciri lingkungan mempengaruhi perkembangan. Contohnya, bagaimana cara membesarkan anak yang berbeda mempengaruhi perkembangan emosional anak ? Bagaimana menonton tayangan kekerasan di televise mempengaruhi tingkat agresi anak ?
Di balik permasalahan spesifik seperti diatas terdapat dua pertanyaan yang lebih mendasar dan lebih luas : (a) Bagaimana factor biologis, (pernyataan “alam pengasuhan” atau “nature versus nature”), (b) Apakah perkembangan sebaiknya dipandang sebagai proses perubahan yang terus menerus atau sebagai urutan stadium yang aberada secara kualitatif.

Interaksi Antara Alam Dan Pengasuhan
Pertanyaan apakah hereditas (“nature”, “alam”)  atau ligkungan (“nature”, “pengasuhan”, atau “pemeliharaan”) yang lebih peting dalam menentukan perjalanan perkembangan manusia telah menjadi perdebatan selama beberapa abad. Contohnya ahli filsafat Inggris pad aabad tujuh belas, John Locke, menolak peryataan yang berlaku opada zamannya bahwa bayi adalah irang dewasa miniature yang datang keduaia dengan kemampuan dan pengetauan yang telah lengkap dan yang semata-mata harus tumbuh menjadi dewasa agar karakteristik bawaan itu tampak, sebaliknya, locke yakin bahwa pikiran bayi neonatur adalah “lembaran kosong” (tabula rasa). Menurut Locke, semua pengetahuan masuk ke dalam diri kita melalui alat indra kita.
Kemunculan teori evolusi Charles Darwin (1859), yang menekankan dasar bilogis perkembangan manusia, menghasilkan sudut pandang hereditas.
Sekarang sebagian besaar ahli psikolofi sependapat bahwa bukan hanya alam dan pengasuhan yang memiliki peran penting, tetapi keduanya berinteraksi secara terus menerus untuk mengarahkan perkembangan. Bahkan perkembangan yang tampaknya sangat helas ditentukan oileh time table biologis dapat dipengaruhi oleh peristiwa lingkungan. Gen-gen tubuh mrmprogram pertumbuhan sel sehingga kita berkembang menjadi manusia da bukan ikan atau cimphazee. Mereka menentukan jenis kelamin, warna kulit, mata, dan rambut, serta ukuran tubuh umum, dan hal-hal lainnya. Determinan genetic itu diekspresikan dalam perkembangan melalui proses maturasi – urutan pertumbuhan dan perubahan bawaan yang relative tidak tergantung pada peristiwa lingkungan. Tetapi lingkungan yang tampalknya atipikal atau tidak adekuat melalui suatu cara akan mempengaruhi proses maturasi.
Cotohnya, janin manusia berkembang di dalam tumbuh ibu sesuai dengan jadal waktu yang cukup pasti. Juga mengikuti urutan yang teratur yang tergantung pada tahap perkembangan. Regularitas perkembangan sebelum lahir itu mengilustrasikan apa yang kita artikan sebagai maturasi.
Malnutrisi maternal, merokok, dan konsumsi alcohol dan obat adalah factor lingkungan lain yang dapat mempengaruhi proses maturnasi janin normal.
Perkembangan motorik setelah lahir juga mengilustrasikan interaksi antara genetic dan lingkungan. Dan agl psikologi perkembangan sejak awal disiplin ini bertanya apakah proses belajar dan pengalaman memiliki peranan penting dalam perbedaan tersebut.
Pengamatan ini menyatakan bahwa keterampilan motorik ini tidak tergantung pada praktek orang tua untuk perkembangannya (Dennis & Dennis, 1940).
Penelitian awal dengan anak kembar juga menghasilkan kesimpulan yang sama (Gesell & Thompson, 1929, McGraw 1935 / 1975). Dalam penelitian tersebut, salah satu anak kembar mendapatkan sangat banyak latihan dini keterampilan tertentu. Anak kembar lain hanya mendapatkan periode latihan yang singkat dan mendapatkannya pada usia yang lebih tua, kemudian kedua anak kembar itu diuji. Secara umum, untuk keterampilan motorik dasar, sejumlah latihan kemudian, jika otot dan sistem saraf lebih matur, tampaknya sama baiknya dengan banyak latihan yang lebih dini.
Tetapi penelitian lebih akhir menyatakan bahwa latihan atau stiamulasi ekstra dapat mempercepat kemunculan perilaku motorik. Sekelompok bayi yang mendapatkan latihan melangkah selama beberapa menit beberapa kali setiap harinya selama beberapa bulan pertama kehidupan mulai berjalan lima sampai tujuh minggu lebih awal dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan latihan tersebut. (Zelso, Zelso & Kolb, 1972)
Perkembangan bicara memberikan comtoh terakhir interaksi antara karakteristik yang ditentukan secara genetic dengan pengalaman yang diberikan oleh lingkungan. Dalam perjalanan perkembangan normal, manusia belajar bicara. Tetapi mereka tidak mampu berbicara sebelum mereka mencapai tingkat perkembangan neurologis tertentu. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan dimana orang berbicara dengan mereka dan memberi hadiah kepadanya karena membuat suara seperti bicara akan berbicara lebih awal dibandingkan anak lain yang tidak mendapatkan perhatian itu. Jadi, perkembangan pembicaraan memiliki komponen genetic dan lingkungan.



Stadium dan periode sensitive dalama perkembangan
Seperti yang disebutkan diatas, terdapat urutan tertentu dalam perkembangan yang tergantung pada maturasi organism saat ia berinteraksi dengan lingkungannya. Sejumlah ahli psikologi, seperti Piaget, kohlbreg, dan erikson yakin bahwa terdapat langkah atau stadium perkembangan yang jelas dan berbeda secara kualitatif.
Jika ahli psikologi menyebut Stadium perkembangan mereka memiliki konsep yang lebih jelas di dalam pikirannya; konsep stadium menyatakan bahwa (a) perilaku pada stadium tertentu disusun di sekitar tema dominan (b) perilaku pada satu dtadium secara kualitatif berbeda dari perilaku yang tampak pada stadium lebih dini atau lebih lanjut; dan (c) semua anak mengalami stadium yang sama dengan urutan yang sama. Factor lingkungan dapat mempercepat atau memperlambat perkembangan, tetapi urutan stadium tidak berubah.
Yang berhubungan erat dengan konsep stadium adalah gagasan bahwa mungkin terdapat periode kritis. Periode kritis telah ditegakkan degan kuat pada beberapa aspek perkembangan fisik janin manisia. Contohnya periode 6 sampai 7 minggu setelah konsepsi adalah kritis untuk perkembangan normal organ seks janin. Apakah organ berkembang menjadi struktur laki-laki atau perempuan terantung pada adanya hormone, susunan kromosom XX atau CY.
Pengalaman anak selama periode sensitive tersebut dapat membentuk perjalanan perkembangannya di masa depan sedemikian rupa sehingga akan sulit untuk mengubahnya kemudian.

Kapasitas Neonatus
Masa bayi sulit untuk dipelajari karena bayi tidak dapat menjelaskan apa yang mereka lakukan atau mengatakan kepad akita apa yang mereka pikirkan. William James, mengatakan bahwa neonates merasakan dunia sebagai “kebingungan yang berdengung dan berkembang” masih banyak dianut sampai akhir tahun 1960-an.
Bayi neonates mungkin secara fisik lemah dan tidak berdaya saat mereka lahir, tetapi mereka memasuki dunia dengan semua sistem sensorik yang berfungsi dan siap untuk mempelajari lingkungan baru mereka. Dalam faktanya, kita akan melihat dibawah, bahwa mereka telah mulai mempelajari sesuatu bahkan saat masih di dalam rahim.

Pendengaran
 Bayi neonates akan terkejut mendengar bunyi nyaring. Mereka juga akan memalingkan kepalanya ke arah sumber bunyi. Yang menarik, respons memalingkan kepala ini menghilang pada sekitar 6 minggu dan tidak timbul kembali sampai usia 3 atau 4 bulan, pada saat mana bunyi juga akan mencari-cari sumber bunyi dengan matanya. Pada usia 6 bulan bayi menunjukkan peningkatan nyata responsivitasnya mereka terhadap bunyi yang disertai oleh pemandangan menarik. (Field, 1987)

Penglihatan
Sistem penglihatan belum berkembang secara baik pada saat lahir, neonates memiliki kerajaman penglihatan yang buruk dan kemampuannya untuk mengubah focus masih terbatas, sehingga benda-benda tampaknya kabur. Pada saat mereka mampu merangkak sendiri pada usia 7 atau 8 bulan mereka dapat melihat hamper sama baiknya seperti orag dewasa (Cornell & McDonnel, 1986).
Neonates banyak melihat pada kontur luar wajah, tetapi pada usia 2 bulan mereka memusatkan perhatiannya pada bagian dalam wajah mata, hidung, dan mulut (Haith, Bergman, & Moore, 1977).

Pengeapan dan Penciuman
Bayi dapat mendiskriminasikan perbedaan pengecapan segera setelah lahir. Mereka lebih menyukai cairan yang manis ketimbang cairan yang asin, pahit, asam, atau campuran.
Setelah menyusui selama beberapa hari, bayi akan secara konsisten akan memalingkan kepalanya kea rah bantalan yang dibasahi dengan air susu ibunya sendiri ketimbang bantalan yang dibasahi oleh air susu ibu lain (Russel, 1976). Kemampuan bawaan untuk membedakan bau-bauan memiliki nilai adaptif yang jelas : hal ini membantu bayi menghindari substansi berbahaya, dengan demikian meningkatkan kemungkinan bertahannya hidupnya.

Belajar dan Memori
Karena otak tidak berkembang secara baik pada sat lahir, dahulu diduga bayi tidak dapat belajar atau mengingat. Hal ini jelas keliru, habituasi sendiri merupakan indikasi proses memori dasar.
Bukti adanya proses belajaar dan pengingatan dini berasal dari penelitian yang secara eksplisit dirancang untuk menguji proses tersebut. Hanya dalam beberapa uji coba, bayi mampu melakukannya tanpa kesalahan memalingkan kepala ke kanan jika nada diperdengarkan dan memalingkan kepala ke kiri jika buzzer diperdengarkan. Penelitian membalik situasi sehingga bayi harus memalingkan kepala kea rah berlawanan jika buzzer atau nada diperdengarkan. Bayi menguasai tugas yang baru ini dengan sangat cepat (Siqueland & Lipsitt, 1966).
Yang lebih mengejutkan adalah bukti bahwa bayi memiliki sesuatu yang telah dipelajari dan diingat dari pengalamannya di dalam rahim, kita telah mengetahui bahwa bayi neonates dapat memebdakan bunyi suara manusia dari bunyi lain.
Beberapa preferensi itu tampaknya memiliki sumber dalam pengalaman pranatal bayi dengan suara. Salah satu suara utama yang terdengar selain bising latar adalah denyut jantung ibu, dan keakraban neonates dengan suara ini tampaknya memberikan keterangan padanya.
Suara ibu juga dapat di dengar di rahim, yang tampaknya menjelaskan mengapa bayi neonates lebih menyukai suara ibunya sendiri dibandingkan suara lain.

Temperamen   
Dalam membahas kapasitas bayi, kita harus memfokuskan pada cara yang disukai bayi. Tetapi orang yang baru pertama kali menjadi orang tua seringkali terkejut karena bayinya tampak memiliki kepribadian yang berbeda sejak awal saat mereka memiliki anak kedua, mereka seringkali terkejut berapa berbedanya bayi kedua itu dari bayi mereka yang pertama.
Karakteristik kepribadian yang berhubungan dengan mood itu dinamakan temperamen, dan terdapat beberapa bukti bahwa temperamen merupakan blok pembangunan awal untuk kepribadian individu di kemudian hari. (Thomas & Chess, 1977)
Perbedaan temperamen yang diamati pada bayi seringkali menetrap dalam syatu derajat selama masa anak-anak, jadi bayi dengan temperamen “sulit” lebih sering mengalami masalah sekolah dikemudian hari dibandingkan bayi dengan temperamen “mudah” (Riese, 1987, Thomas & Chess; 1977). Temperamen bawan mempredisposisikan bayi untuk bereaksi dalam cara tertentu, tetapi temperamen dan pengalaman hidup berinteraksi untuk membentuk kepribadian.
Sebagai ringkasannya, riset yang kami jelaskan dalam bagian ini menentang pandangan neonates sebagai “lembaran kosong”. Jelas, bayi bahkan memiliki titik awal untuk mengembangkan kepribadiannya yang berbeda.

Teori Stadium Piaget
Walaupun sebagian besar orangtua mengetahui perubahan intelektual yang menyertai pertumbuhan fisik anak, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menjelaskan sifat perubahan tersebut.
Piaget yakin bawha anak harus dipandang seperti seorang ilmuwan yang sedang mencari jawaban yang melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi (seperti “apa yang terjadi jika saya mendorong piring ini keluar darai meja ?”)
Hasil dari eksperimen miniature itu menyebabkan anak menyusun “teori” Piaget menyebutya schemata (atau tunggal, skema) tentang bagaimana dunia fisik dan sosial beroperasi.
Berdasarkan observasinya, Piaget menjadi yakin bahwa kemampuan berpikir dan bernalar anak berkembang melalui sejumlah stadium yang berbeda secara kualitatif bersamaan dengan kematangan merka. Ia membagi perkembangan kognitif menjadi empat stadium utama dan sejumlah substadium di dalam masing-masingnya.
Piaget menenamkan 2 tahun pertama kehidupan sebagai stadium sensorimotorik. Selama periode ini, bayi sibuk menemukan hubungan antara tindakan mereka dan konsekuensi dari tiandakan itu.
Penemuan penting selama stadium ini adalah konsep permanensi objek. Suatu kesadaran bawah objek terus menerus ada walaupun tidak tertangkap oleh indera. Bayi yang lebih tua telah mendapatkan konsep kepermanenen objek. Ini menyatakan bahwa bayi memiliki respresentasi mental tentang benda yag hilang, tetapi pada usia ini pun, pencarian masih terbatas.
Pada sekitar usia 1 ½ sampai 2 tahun, anak mulai menggunakan bahasa. Kata, sebagai symbol dapat mewakili benda atau satui benda dapat menjadi simbil benda lain.
Walaupun anak usia 3 dan 4 tahun dapat berpikir dalam pengertian simbolik, kata-kata dan bayangannya masih belum terorganisasi secara logis. Piaget menyebut stadium perkembangan kognitif antara usia 2 sampai 7 tahun sebagai praoperasional, karena anak masih belum memahami aturan atau operasi tertentu. Dalam stadium praoperatif perkembangan kognitif, pemahaman anak tentang reversibilitas dan operasi mental lain masih belum dan atau lemah. Sebagai akibatnya menurut piager, anak praoperasional masih belum mendapatakan konservasi.
Piaget yakin baha cirri utama stadium praoperasional adalah bahwa anak tidak mampu memusatkan perhatian pada lebih dari satu aspek situasi pada suatu waktu. Sebaiknya, anak usia 7 tahun dapat menganggap bahwa jika jumlah benda sama seperti sebelumnya, pasti sekarag akan tetap sama. Pada usia tersebut, ekuitas numeric menjadi lebih penting dibandingkan kesan visual.
Perkembangan kognitif bukan hanya mempengaruhi pemahaman anak tentang dunia fisik, tetapi dunia sosial pula. Karena pemahaman peraturan modal dan sosial adalah penting dalam semua masyarakat.
Peraturan moral merupakan aspek yang telah ditentukan dan permanen daari dunia sama seperti hukum gravitasi. Jika ditanya tentang apa yang akan terjadi jika melanggar peraturan moral (seperti berbohong atau mencuri), anak dalam stadium ini seringkali megekspresikan pandangan bahwa hukuman akan terjadi – tuhan akan menghukum mereka atau mereka akan tertabrak mobil.
Anak praoperasioanl tidak memebdakan antara kebohongan yang disengaja serta oportunistik, dan pembesar-besaraan atau kesalahan pernyataan yang tidak berbahaya.
Antara usia 7 dan 12 tahun, anak meguasai konsep konservasi dan mulai melakukan manipulasi logika lain lagi. Mereka dapat menyusun benda-benda berdasarkan dimensi, seperti tinggi atau aberat. Mereka juga dapat melakukan representasi mental sejumlah tindakan. Anak lima tahun dapat menemukan jalan ke rumah kawannya tetapi tidak dapat mencerminkan kepada anda bagaimana cara sampai ke rumah kawannya itu. Mereka dapat menemukan jalan karena mereka tahu bahwa mereka harus belok di tempat tertentu, tetapi tidak amemiliki gambaran keseluruhan tentang cute jalannya. Piaget menyebut periode ini sebagai stadium operasional kokret.
Stadium pemahaman moral Piaget ketiga juga dimulai pada sekitar waktu ini. Realism moral anak juga menyatakan, saat memebuat pertimbangan moral, anak sekarang memberikan bobot pada pertimbangan “subjektif” seperti maksud seseorang, dan mereka memandanag hukuman sebagai keputusan manusia, bukan retribusi dari kekuatan yang lebih tinggi.
Pada sekitar usia 11 atau 12 tahun, anak sampai pada model pemikiran dewasa, menjadi mampu memberikan penaralan dalam pengertian yang benar-benar simbolik. Piaget menyebut stadium ini sebagai stadium operasional formal.
Awal stadium operasional formal juga timbul bersamaan dengan stadium keempat dan terakhir pada pemahaman anak tentang peratura moral. Seorang ahli psikologi Amerika, Lawrence Kohlberg, melanjutkan penelitian Piaget tentang penaralan moral dengan memasukkan masa remaja dan dewasa (Kohlberg, 1969, 1976). Ia mencoba menentukan apakah terdapat dtadium universal dalam perkembangan penilaian moral dengan mempresentasikan dileman moral adalam bentuk kisah. Contohnya, seorang pria miskin yangsitrinya sakit berat dan hamper meninggal memeerlukan obat yang tidak dapat dibelinya sehingga ia memohon kepada penjual obat untuk menjualnya dengan harga lebih murah. Spenjual obat menolak, pria itu memutuskan untuk mencari obvat. Subjek kemudian mendiskusikan perbuatan pria itu.
Jawaban mendapat nilan berdasarkan alasan yang diberikan untuk keputusan itu, bukan berdasarkan pada apakah suatu tindakan dianggap benar atau salah. Kohliberg yakin bahwa semua anak berada pda tingkat 1 sampai sekitar usia 10 tahun, saat mereka mulai menilai tindakan berdasarkan opini orang lain (tingkat II). Sebagian besar anak berada pada tingkat ini sampai usia 13. Dengan mengikuti Piaget, Kohberg berpendapat bahwa hanya mereka yang mecapai pikiran operasional formal yang mampu berpikir secara abstrak yang diperlukan untuk mencapai tiangkat III, moralitas pasca konvensional. Stadium tertianggi, stadium 6, memerlukan formulasi prinsip etika abstrak dan mempertahankannya untuk menghindarai penyesalah diri.



Penilaian Terhadap Piaget
Hal tersebut diilustrasiukan secara jelas dari penelitian kepermanenan objek kesadaran bahwa suatu objek terus ada walaupun tidak tertangkap oleh indra.
Persyaratan memori dipelajari dalam penelitian yang menggunakan prosedur penyembunyian objek di lokasi A dan kemudian secara kentra memindahkannya dan menunjukannya di lokasi B sementara bayi mengamati. Dengan demikian bayi yang mendapatkan kepermanenan objek akan gagal melakukan tes ini jika persyaratan memori dibuat terlalu sulita. Mereka menyadari bawha objek yang tersembunyi masih tetap ada; mereka hanya kehilangan jejak di mana harus mencarinya.
Kelemahan lain dari teori Piaget tentang kepermanenan objek berasal darai sejumlah penelitian yang tidak mengharuskan anak secara aktif mencari objek tersembunyi.
Harus dicatat bawha bayi dalam eksperimen ini baru berusia 4 ½ bulan dengan demikian mereka menunjukkan kepermanenan objek sekitar 4 sampai 5 bulan lebih awal dibandingkan yang diperkirakan oleh teori Piaget. Replikasi penelitian ini menemukan bahwa sebagian bayi berusia 3 ½ bulan juga memiliki kepermanenan objek (Baillargeon, 1987).
Tugas konservasi Piaget merupakan contoh kedua dimana analisis yang cermat terhadap komponen keterampilan yang diperlukan untuk dapat berhasil melakukan tugas mengungkapkan kompetensi yang lebih awal dibandingkan yang diantisipasi oleh teori Piaget. Contohnya, jika kondisi tes disusun secara cermat dalam kesperimen konservasi sehingga respons anak tidak tergantung pad kemampuan berbahasanya. Maka anak yang berusia 3 atau 4 tahun pun dapat menunjukkan bahwa mereka memiliki konservasi jumlah, artinya, mereka dapat membedakan antara cirri-ciri esensial, jumlah benda di suatu kumpulan, dan cirri yang tidak relevan, cara bagaimana benda-benda itu disusun secara special (Gelmanb & Gallistel, 1978)
Kita telah melihat sebetulnya bahwa anak praoperasional memperlakukan sekehandak hati peraturan permainan dan kebiasaan soaial seperti pelajran moral yang tidak dapat diubah oleh persetujuan sederhana diantara partisipan. Tetapi, riset terakhir menyatakan bawha anak praoperasional dapat dan memang membuat perbedaan antara kebiasaan sosial dan ajaran moral.
Terdapat persetujuan luas diantara anak-anak itu bahwa berbohong, mencuri, memukul dan egois adalah salah walaupuyn tidak ada aturan yang melarangnya. Sebaliknya, mereka menganggap tidak salah mengunyah permen karet di kelas, memanggil guru dengan namanya, anak laki-laki memasuki kamar kecil anak perempuan, atau makan siang dengan jari – selama tidak ada atauran yang melarangnya. Selain itu, mereka dapat membuat perbedaan lebih lanjut antara peraturan yang mengatur tiandakan yang mempengaruhi orang lain dan peraturan yang mengatur tindakan yang hanya mempengaruhi diri sendiri.
Dalam penelitian serupa, anak-anak usia 7 tahun secara seimbang dibagi untuk memutuskan apakah boleh anak laki-laki memakai rok ke sekolah walaupun “kepala sekolah menyatakan tidak ada peraturan yang melaraagnya”. Tetapi 82 persen darai mereka menganggap boleh saja bagi anak laki-laki untuk memakai rok “dinegara yang tidak ada peraturan melarangnya” (Tureil, 1983).

Alternative Terhadap Piaget
Terdapat kesepakatan umum diantara para ahli psikologi perkembangan bahwa temuan yang telah kita tinjau di sini secara serius menantang teori Piaget dan menyatakan bahwa ia merehkan kemampuan anak. Tetapi tidak ada consensus tentang alternative mana yang paling baik diikuti.

Perkembangan Sosial Pada Masa Anak-Anak  
Kontak sosial pertama kita adalah dengan orang yang mengasuh kita pada masa bayi, biasanya orag tua. Sebagian ahli psikologi yakin bahwa perasaan dasar seseorang untuk percaya pada orang lain ditentukan oleh pengalaman selama tahun-tahun pertama kehidupannya. Di dalam diskusi ini kita akan menggunakan istilah “orang tua” untuk meyebut pegasuh primer, mengingat bahwa orang lain kadang-kadang mengambil peran ini.

Perilaku Sosial Dini 
Pada usia dua bulan, rata-rata anak akan tersenyum saat melihat wajah ibu atau ayahnya. Memang, keamampuan bayi untuk tersenyum pada usia ayang dini itu mungkin telah berkembang secara historis karena hal ini memperkuat ikatan orang tua – anak. Senyum pertama megatakan kepada orang tua bahwa bayi megenali dan mencintai mereka – yang sesungguhnya tidak benara dalam pengertian probadi pada usia tersebut – dan mendorong orang tua untuk lebih mengasihi dan menstimulasi bayi sebagai responsnya.
Bayi di dseluruh dunia mulai tersenyum pada usia yang kira-kiraa sama, tanpa memandang apakah dibebaskan di desa terpencil di Afrika atau di keluarga kelas menengah di Amerika.
Bagaimana kita menjelaskan penentuan waktu kemunculan rasa takut yang sistematik pada anak-anak? Salajh satu adalah pertumbuhan kapasitas memori.
Tampaknya berasalan untuk menganggap bawha perkembangan memoria terlibat pada apa yang dinamakan “cemas perpisahan”. Bayi tidak dapat “kehilangan” orang tua kecuali ia dapat mengingat keberadan orang tua satu menit sebelumnya dan membandingkan hal ini dengan ketidakhadiran orang tua sekarang. Saat memori anak membaik tentang kejadian perpisahan dan pertemuan kembali sebelumnya anak menjadi lebih mampu mengantisipasi kembalinya aorag tua yang tidak ada dan kecemasan berkurang.
Factor kedua adalah pertumbuhan otonomi. Anak berusia satu tahun masih sangat tergantung pada pengasuhsan orang tua, tetapi anak berusia 2 atau 3 tahun dapat menuju makanan untuk makan atau keranjang mainan sendiri juga, mereka dapat menggunakan bahasa untuk mengkomunikasikan keinginan dan perasaan mereka. Jadi, ketergantungan kepada pengasuh pada umumnya dan pada pengasuh yang familiar khususya akan menurun, dan masalah kehadiran orang tua menjadi kurang kritis bagi anak.

Perlekatan
Kencenderungan bayi untuk mencari keekatan dengan orang terutama dan merasa lebih aman dengan kehadiran mereka dinamakan perlekatan. Bayi spesies lain menunjukkan perlekatan pada induknya melalui beberapa cara yang berbeda. Bayi kera menggendong ke dada induknya saat induknya bergerak.
Ahli psikologi awalnya mengajukan teori bahwa perlekatan bagi kepada ibunya (atau induknya) berkembang karena ia merupakan sumber makanan, salah satu kebutuhan bayi yang paling dasar. Tetapi beberapa fakta tidak cocok. Contohya, anak bebak dan anak ayam dapat makan sendiri sejak menetas dari telur, tetapi mereka masih mengikuti induknya kemana saja dan menghabiskan banyak waktu besama induknya.
Bagi kera, interaksi dengan anggota lain spesiesnya selama 6 bulan kehiduoan rampaknya sangat penting untuk perkembangan sosial yang normal.
Sebagian besar riset tentang perlekatan pada manusia telah mempelajari perbedaan diantara bayi dalam rasa aman perlekatan dengan ibunya dan apakah perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh pola interaksi dini antara bayi dan ibu, dengan tempramen bawaan bayi, atau keduanya.

Identitas Jenis Dan Penggolongan Tipe Seks
Dengan sedikit pengecualian, spesies manusia datang dengan dua jenis kelamin, dan sebagian besar anak mendapatkan pengertian yang kuat tentang dirinya sendiri sebagai laki-laki atau perempuan. Mereka mendapatkan apa yang disebut oleh ahli psikologi perkembangan sebagai identitas jenis. Tetapi sebagian besar kultur memperinci perbedaan biologis antara pria dan wanita.
Pendapaian perilaku dan karakateristiak yang dianggap kultur sebagai sesuai amenurut jenis kelamin dinamakan penggolongan tipe seks. Tetapi apakah identitas jenis dan penggolongan tipe seks semata-mata merupakan produk saran dan harapan kultur atau merupakan produk perkembangan “alami” ? Banyak teori yang bertentangan dalam hal ini. Kita akan mempelajarai empat diantaranya di sini.
Ahli psikologis pertama yang mencoba memahami jenis dan penggolongan tipe seks adalah Sigmund Fried, yang teori psikoanalitiknya memiliki suatu teori stadium perkembangan psikoseksual di dalamnya (Frued, 1933 / 1964).
Menurut Frued, anak mulai memusatkan perhatian pada genital pada sdekitar usia 3 tahun, ia menyebut hal ini sebagai awal stadium falik dari perkembangan bangan psikoseksual. Selama stadium yang sama, mereka jugamulai memiliki perasaan seksual kea rah orang tua dari jenis kelamin berlawanan dan merasa cemburu atau abenci melihat orangtua dengan jenis kelamin sama; Freud menamakan hal ini konflik Gedipus. Saat mereka semakin dewasa, kedua jenis kelamin akhirnya memecahkan konflik ini melalui identifikasi. Jadi, proses pembentukan identitas jenis dan menjadi jenis kelamin yang pasti dimulai dengan penemuan anak akan perbedaan genital pria dan wanita dan berakhir dengan orang tua berjenis kelamin sama (Freud, 1925 / 1961).
Teori belajar sosial memiliki konsep modeling dan identifikasinya sendiri, tetapi didasarkan pada belajar melalui observasi ketimbanng pada pemecahan konflik dalam diri. Banyak bukti mendukung teori belajar sosial umum untuk penggolongan tipe seks. Orang tua secara berbeda memberi hadiah atau hukuman terhadap perilaku yang sesuai dan tidak sesuai jenis kelamin serta berfuangsi sebagai model pertama untuk perilaku maskulin dan feminia.
perilaku feminism bagi anak laki-laki kuat dibandingkan terhadap perilaku maskulin bagi anak perempuan. Menjadi “benci” bagi anak laki-laki kurang dapat diterima dibandingkan menjadi “tomboy” bagi anak perempuan. Anak laki-laki berusia empat dan lima tahun lebih sering berkesperimen. Anak laki-laki berusia empat dan lima tahun lebih sering berkesperimen dengan mainan dan aktivitas feminine, saat tidak ada yang melihat dibandingkan jika terdapat oraang dewasa atau anak laki-laki lain. Bagi anak perempuan, kehadiran orag lain yang mengamati tidak terlalu membuat perbedaan dalam pilihan mereka dalam aktiavitas permainannya.
Beberapa fenomena apenggolongan tipe seks tersebut dengan baik dijelaskan oleh teori belajar sosial. Teori perkembangan kognitif terhadapa identitas jenis dan penggolongan tipe seks sekarag merupakan teori yang paling berpengaruh terhadap perkembangan jenis kelamin di dalam bidangnya.
Psikologi yang menerapkan dekatan perkembangan kognitif yakin bahwa anak seringkali gaal dalam tugas konservasi karena mereka tidaka memiliki pengetahuan yang memadai dari domain yang relevan. Hal ini menyatakan bahwa kekonsistenan jenis anak mungkin juga tergantung pada pemahaman mereka akan kelelakian dan keperempuanan.

Teori Skema Jenis Kelamin
Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa penekatan sosiokultural kepada perkembangan psikologi memandang bahwa anak yang sedang berkembang bukan sebagai ilmuwan fisika yang mencari pengetahuan yang benar secara universal tetapi sebagai pendatang baru ke dalam kultur yang mencoba menjadi peghuni dengan belajar bagaimana melihat pada realita kacamata kultur tersebut.
Sebagian besar kultur menguraikan perbedaan biologis antara pria dan wanita ke dalam jaringan keyakinan dan praktek yang memasuki hamper semua domain aktivitas manusia. Tetapi kultur juga mengajarkan kepada anak pelajaran yang lebih dalam, yaitu bahwa perbedaan antara pria dan wanita tidak sangat penting sehingga harus menjadi sudut pandang untuk melihat segala hal.
Dengan demikian teori skema jenis merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang diyakini oleh Bem bahwa teori perkembangan kognitif identitas jenis dan penggolongan jenis gagal untuk menjawabnya.
Tetapi seperti teori belajar sosial, teori skema jenis menyatakan bahwa penggolongan jenis bukan tidak dapat dihindari atau tidak dapat dimodifikasi. Anak menjadi tergolong jenis karena seks terjadi menjadi focus utama di sekitar mana kultur mereka memilih untuk mengorganisasikan pandanganya akan realitas.

PERKEMBANGAN REMAJA 
Perkembangan Seksual
Pubertas, periode maturasi sekusl yang mengubah seorang anak menjadi orang dewasa yang matang secara biologis yang mampu melakukan reproduksi seksual, terjadi dalam periode sekitar 3 atau 4 tahun. Pubertras dimulai dengan periode pertumbuhan fisik yang cepat yang disertai oleh perkembangan bertahap pada perempuan, janggut pada laki-laki dan tumbuhnya rambut pubis pada kedua jenis.
Terdapat variasi yang luas dalam usia di mana pubertas dimulai dan kecepatan perkembangannya. Sebagian anak perempuan mencapai menarche sedini usia 11 tahun, yang lain selambat usia 17 tahun; rata-rata usia adalah 12 tahun, 9 bulan. Anak laki-laki, rata-rata, mengalami percepatan pertumbuhan dan matur 2 tahun lebih lambat dibandingkan anak perempuan.

Efek Psikologis Dari Pubertas
Pendapat umum menyatakan bahwa masa remaja adalah periode “badai dan stres” yang ditandai oleh kemurungan, kekacauan di dalam diri, dan pemberontakan. Tetapi riset tidak kurang pandangan psikimistik ini. Pada umumnya, perubahan pubertas positif untuk anak laki-laki tetapi merupakan pengalaman negative untuk anak perempuan.
Peneliti menyimpulkan bahwa pada remaja yang kehidupannya telah terganggu, perubahan yang terjadi pad amasa remaja awal menambahkan beban lebih lanjut sehingga masalah mereka lebih besar kemungkinannya untuk menetap.

Standard dan Perilau Seksual
Selama 30 tahun terakhir ini kita telah melihat suatu perubahan revolusioner dalam sikap terhadap aktivitas seksual pada sebagian besar masyarakat barat. Bagi wanita, perubahan pertama yang penting dalam perilaku seksual pra nikah sesungguhnya terjadi pada tahun 1920-an.
Dengan kemunculan AIDS (acquired immune deficiency syndrome; syndrome imunodefisiensi didapat) dan penyebaran penyakit veneral dan infeksi genital (seperti herpes), kalangan kesehatan berharap agar remaja mulai berhati-hati terhadap aktivitas sekual.

Konflik Remaja – Orang Tua 
Berkaitan dengan pandangan tradisional bahwa masa remaja merupakan periode kekacauan personal yang tidak dapat dihindari adalah harapan agar remaja dan orangtuanya menderita “kesenjagan generasi” yang ditandai oleh huungan remaja orang tua yang penuh badai.
Tetapi memang benar bahwa konflik keluarga dalam bentuk mengomel, pecekcokan, dan pertengkaran lebih sering selama masa remaja ketimbang periode perkembangan lainnya, dan lebih kuat selama masa remaja awal dan pertengahan (kira-kira usia 11 sampai 15 tahun) dibandingkan masa remaja akhir.
Pada umumnya, konflik biasanya melibatkan aspek yang umum darai kehidupan keluarga, seperti pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, kamar yang berantakan, music yang hingar binger, penampilan pribadi, dan jam malam.
Sebagian besar orang tua dan remaja belajar bernegosiasi bentuk salig ketergantungan (interdependence) baru yang menjamin remaja mendapatakan lebih banyak otonomi, peran yang lebih setiangkat dalam keputusan keluarga, dan lebih bertanggung jawab.
Perkembangan Identitas
Tugas utama yang menghadapi remaja adalah membentuk identitas individualitas, untuk menemukan jawaban “siapa saya” dan kemana saya akan pergi? Proses ini juga melibatkan perasan tentang kompetensi dan harga diri.
Identitas remaja berkembang secara perlahan-lahan darai berbagai identifikasi pada masa anak-anak. Di dalam masyarakat yang sederhana di mana model identifikasi hanya sedikit dan peran sosial terbatas, tugas untuk lmembentuk identitas relative mudah. Sebagai akibatnya, terdapat perbedaan besar antara remaja dan bagiaman perkembangan identitas mereka berjalan. Selain itu, semua identiatas remaja tertentu mungkin berada pada stadium perkembangan yang berbeda dalam bidanag kehidupan yang berbeda (misalnya, seksual, pekerjaan, ideologi).

PERKEMBANGAN SEBAGAI PROSES SEUMUR HIDUP
Perkembangan tidak berakhir dengan pencapaian maturitas fisik. Ini merupakan proses yang terus menerus yang dimulai sejak lair sampai masa dewasa dan sampai lanjut usia.
Erik Erikson telah mengajukan delapan stadium yang merupakan karakteristiak perkembangan seumur hidup. Ia menamakannya stadium psikososial karena ia yakin bahwa perkembangan psikologis seorang individu tergantung pada hubungan sosial yang ditegakkan pada berbagai saat kehidupan mereka. Tiap stadium menghadapai masalah atau krisis tertentu.
Seperti yang kita lihat dari bagain sebelumnya, membentuk identitas pribadi adalah tugas psikososial berat bagi remaja. Dalam mendukug hipotesis erikson bahwa tiap stadium perkembangan tergantung pada penguasaan stadium sebelumnya, penelitian telah m,enemukan bahwa remaja yang seacara aktif mengkuatirkan identitasnya atau yang telah mencapai skor identitas tinggi pada penilaian otonomi (Erikson Stadium 2) ketimbang mereka yang tidak pernah mengalami krisis identitas (Waterman & Waterman, 1972)

Masa Dewasa Awal
Selama tahun-tahun dewasa awal, orang berkomitmen kepada dirianya sendiri untuk suatu pekerjaan, dan banyak yang menikah atau membentuk hubungan intim lain.

Masa Dewasa Pertengahan  
Bagi banyak orang, masa dewasa pertangahan (kira-kira usia  40 sampai 65) adalah masa yang paling produktif. Orang dalam usia empat puluhan biasanya pada puncak karir. Wanita yang menghabiskan waktu-waktu awalnya untuk tanggung jawab rumah seringkali berpaling ke karir atau aktivitas lain saat anak-anak mencapai masa remaja.
Terdapat banyak pandangan bahwa waktu inilah juga waktu “krisis tengah baya” (midlife crisis) saat dimana individu mulai menyadarinya bahwa mereka belum mencapai ptujuan yang mereka tetapkan saat masih muda atau mereka tidak melakukan hal yang penting.
Tetapi banyak penelitian mempertanyakan konsep krisis tengah baya sebagai stadium perkembangan yang dialami oleh sebagian besar orang. Memang benar bawha tengah baya seringkali merupakan waktu transisi saat orag mencapai pertengahan kehidupannya, pandangan mereka akan harapan hidup cenderung berubah.

Masa Lanjut Usia
Orang yang berusia kurang dari 65 tahun sekarang membentuk kira-kira 12 persen populasi, persentasi ini diperkirakan mencapai 20 persen pada tahun 2020. Karena kemajuan dalam kedokteran, perbaikan doiet, dan penigkatan minar dalam kebugaran fisik, lebih banyak oran yang mencapai usia lanjut 65, 75, dan bahkan lebih tua dalam kesehatan yang sangat baik.
Keyakinan bahwa kemampuan mental menurun besamaan dengan penuaan juga telah diragukan oleh temuan riset. Orang lanjut usia tidak memproses informasi secepat orang muda, dan mereka cenderung buruk dalam mengerjakan beberapa tugas pemecahan masalah.
Itulah isis terang daari sebuah gambar; bagi sebagian orang lanjut usia, tahun-taun lanjut usia tidak terlalu menggembirakan. Mereka yang dalam kesehatan fisik merasa bahwa penurunan kekuatan fisik membatasi aktivitas mereka dan penyakit. Krisis psikosisial erikson yang terakhir Intergrasi lawab kekecewaan cara seseorang menghadapi akhir kehidupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar