Label

Rabu, 04 April 2012

SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA


Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah Kabupaten dan daerah Kota. Setiap daerah provinsi, daerah kabupaten dan daerah kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang.
Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib, diselenggarakan oleh seluruh provinsi, kabupaten dan kota, sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah, yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masing-masing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah, mengamatkan, bahwa Otonomi Daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pemerintah daerah dan DPRD adalah penyelenggara pemerintahan daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
Perangkat daerah dibentuk oleh masing-masing daerah berdasarkan pertimbangan karakteristik, potensi dan kebutuhan daerah. Formasi dan persyaratan jabatan perangkat daerah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. Perangkat daerah adalah organisasi atau lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab kepada kepala daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Pada daerah provinsi, perangkat daerah terdiri atas sekretariat daerah, dinas daerah, dan lembaga teknis daerah. Pada daerah kabupaten/kota, perangkat daerah terdiri atas sekretariat daerah, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan/desa.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, implementasi penataan kelembagaan perangkat daerah menerapkan prinsip-prinsip organisasi, antara lain visi dan misi yang jelas, pelembagaan fungsi staf dan fungsi lini serta fungsi pendukung secara tegas, efisiensi dan efektifitas, rentang kendali serta tata kerja yang jelas. Hal ini dimaksudkan memberikan arah dan pedoman yang jelas kepada daerah dalam menata organisasi yang efisien, efektif dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah masing-masing serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat dan daerah.
Salah satu lembaga perangkat daerah adalah Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB. Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB merupakan wilayah kerja kepala desa sebagai perangkat daerah kabupaten/kota dalam wilayah kecamatan. Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB dipimpin oleh kepala desa. Kepala desa sebagai aparat dalam lembaga perangkat Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB memiliki tugas berat yang harus dipikul dalam rangka meningkatkan kesejahteraan pedesaannya. Kepala Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB diharuskan menata kelembagaan desa, memiliki visi dan misi yang jelas, pelembagaan fungsi staf dan fungsi lini serta fungsi pendukung secara tegas, efisiensi dan efektifitas, rentang kendali serta tata kerja yang jelas. Sehingga Kepala Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB dapat menata kelembagaan desa secara efisien, efektif dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pedesaannya. Dalam hal ini, kepemimpinan Kepala Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB sangat menentukan dalam menata kelembagaan desa secara efisien, efektif dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pedesaan dalam rangka mensejahterakan masyarakat pedesaan.
Devana dan Tichy dalam Safaria (2003) mengatakan bahwa pemimpin yang efektif dapat mengidentifikasikan diri sebagai agen perubahan, orang yang perilakunya akan lebih mempengaruhi orang lain daripada perilaku orang lain yang mempengaruhi mereka. Hal ini menyiratkan bahwa kepemimpinan melibatkan penggunaan pengaruh, dan bahwa semua hubungan dapat melibatkan kepemimpinan. Selain itu, pentingnya menjadi agen bagi perubahan, mampu mempengaruhi perilaku dan kinerja pegawainya serta dapat memusatkan pada pencapaian tujuan.
Pemimpin yang efektif harus memusatkan pada tujuan-tujuan individu, kelompok dan organisasi. Keefektifan pemimpin secara khusus diukur dengan pencapaian dari satu atau beberapa kombinasi tujuan-tujuan ini. Individu dapat memandang pemimpinnya efektif atau tidak, berdasarkan kepuasan yang mereka dapatkan dari pengalaman kerja keseluruhan. Pada kenyataannya, diterimanya arahan atau permintaan sang pemimpin sebagian besar tergantung pada harapan pengikutnya bahwa suatu respon yang tepat dapat mengarah pada hasil akhir yang menarik. Bagi Burns (dalam Yukl, 2004), kepemimpinan merupakan sebuah proses, bukan sejumlah tindakan yang mempunyai ciri-ciri sendiri. Burns (dalam Yukl, 2004) menjelaskan kepemimpinan sebagai sebuah arus antar hubungan yang berkembang, di mana pemimpin secara terus menerus membangkitkan tanggapan-tanggapan motivasional para pengikut dan memodifikasi perilaku mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Serangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh pegawai Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB dalam melaksanakan pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi dapat juga diartikan sebagai perilaku pegawai. Perilaku pegawai Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB yang dapat mempengaruhi usaha pencapaian tujuan organisasi dapat berbentuk kemampuan bekerja sesuai dengan pendidikan, ketrampilan dan pengalaman yang dimilikinya. Perilaku pegawai Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB dalam organisasi dipengaruhi oleh sumber daya yang ada dalam organisasi itu. Keterbatasan sumber daya manusia, dana, peralatan dan pemasaran yang dimiliki oleh Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB akan mempengaruhi perilaku pegawai dalam meningkatkan kinerjanya. Oleh karena itu, Kepala Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB harus dapat memanfaatkan sumber daya yang ada di Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB untuk dikelola dan dikembangkan sehingga pegawai dapat terpacu untuk meningkatkan kinerjanya.
Kinerja merupakan penampilan perilaku kerja yang ditandai oleh keluwesan gerak, ritme dan urutan kerja yang sesuai dengan prosedur, sehingga diperoleh hasil yang memenuhi syarat kualitas, kecepatan dan jumlah (Grounlond, 1982: 86). Sejalan dengan itu pula Augustt W. Smith (1982:393) menyatakan bahwa kinerja adalah kinerja merupakan hasil atau output dari suatu proses.
Bernardin & Russell (1998:239) memberi batasan mengenai kinerja sebagai catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama satu periode waktu tertentu. Adapun yang mempengaruhi kinerja di antaranya adalah motif-motif individu, seperti yang dikemukakan oleh Steers dan Porter (1987:30) yang menyatakan bahwa, “Kinerja (performance) dipengaruhi oleh motif-motif individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
Cribbin (1990: 51) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh konsensus dan keikatan pada sasaran bersama melalui syarat-syarat perusahaan yang dicapai dengan pengalaman, sumbangan dan kepuasan kerja. Menurut Hasibuan (1986: 343), kepemimpinan adalah gaya seseorang pemimpin mempengaruhi pegawainya agar mau bekerjasama dan bekerja efektif sesuai dengan perintahnya. Sedangkan menurut Moenir (1998: 18) mengemukakan bahwa:
”Kepemimpinan pada dasarnya mempunyai pokok pengertian sebagai sikap, kemampuan, proses atau konsep yang dimiliki oleh seseorang sedemikian rupa sehingga ia diikuti, dipatuhi, dihormati, dan disayang oleh orang lain dan orang itu bersedia dengan penuh keikhlasan melakukan perbuatan atau kegiatan yang dikehendaki oleh orang tersebut.”

Menurut Terry yang dikutip oleh Thoha (2007: 5) merumuskan “Kepemimpinan itu adalah aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi”. Menurut Raven (dalam Wirjana & Supardo, 2006: 4) mendefinisikan pemimpin sebagai:
“Seseorang yang menduduki suatu posisi di kelompok, mempengaruhi orang-orang dalam kelompok itu sesuai dengan ekspektasi peran dari posisi tersebut dan mengkoordinasikan serta mengarahkan kelompok untuk mempertahankan diri serta mencapai tujuannya”.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
1.    Kepemimpinan merupakan kemampuan dalam mempengaruhi orang-orang untuk mencapai tujuan secara antusias.
2.    Pengaruh kepemimpinan ditunjukan untuk terciptanya kerjasama antara pimpinan dan pegawai.

Kepemimpinan adalah proses dalam mempengaruhi kegiatan-kegiatan  seseorang atau sekelompok dalam usahanya mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.  Untuk mencapai tujuan organisasi, tingkah laku pemimpin dalam hubungan dengan para pegawai menjadi sesuatu yang penting untuk memperhatikan. Berkaitan dengan perilaku pimpinan terhadap pegawai, pendapat Friedler (dalam Thoha, 1993: 97) mengatakan ada tiga perilaku pemimpin yang efektif, yaitu:
1.    Hubungan antara pemimpin dengan pegawai (leader member relations), maksudnya bagaimana tingkat kualitas hubungan yang terjadi antara atasan dengan pegawai. Sikap pegawai terhadap kepribadian, watak dan kecakapan atasan.
2.    Struktur tugas (task structure), maksudnya di dalam situasi kerja apakah tugas-tugas telah disusun ke dalam suatu pola yang jelas atau sebaliknya.
3.    Kewibawaan kedudukan pemimpin (leader’s positions power), maksudnya bagaimana kewajiban formal pemimpin dilaksanakan terhadap pegawai.

Hubungan pemimpin dengan pegawai yang harmonis dapat meningkatkan kinerja organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Hubungan kerja dan hubungan non formal dapat membina dan mengembangkan pemimpin dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi.
Pemimpin akan mengadakan pembinaan dan pengawasan terhadap  perkerjaan yang dilakukan oleh pegawai. Dengan berpedoman kepada struktur tugas yang ada akan lebih mudah bagi pemimpin untuk mengadakan kontrol terhadap pencapaian kerja seorang pegawai.
Kewibawaan mempunyai peranan sebagai daya dorong bagi setiap pemimpin di dalam mempengaruhi, menggerakkan dan mengubah perilaku pegawai ke arah tercapainya tujuan organisasi.
Dengan demikian, adanya hubungan antara pemimpin dengan pegawai yang harmonis, adanya kejelasan dalam struktur tugas dan adanya kewibawaan kedudukan pemimpin dapat mendukung dalam meningkatkan kinerja pegawai untuk mencapai tujuan organisasi.
Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Istilah kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan individu maupun kelompok individu (Mahsun, 2006: 25). Kinerja bisa diketahui hanya jika individu atau kelompok individu tersebut mempunyai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Kriteria keberhasilan ini berupa tujuan-tujuan atau target-target tertentu yang hendak dicapai. Tanpa ada tujuan atau target, kinerja seseorang atau organisasi tidak mungkin dapat diketahui karena tidak ada tolak ukurnya. Achmad S. Ruky (2001) menyatakan bahwa kinerja adalah catatan tentang hasil  hasil  yang  diperoleh  dari  fungsi-fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu
Penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, menurut Mangkunegara (2006: 18-19), terdiri dari aspek-aspek:
a.     Aspek kuantitatif, yang meliputi;
1)        Proses kerja dan kondisi pekerjaan,
2)        Waktu yang dipergunakan atau lamanya melaksanakan pekerjaan,
3)        Jumlah kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan, dan
4)        Jumlah dan jenis pemberian pelayanan dalam bekerja.
b.    Aspek kualitatif, yang meliputi;
1)        Ketepatan kerja dan kualitas pekerjaan,
2)        Tingkat kemampuan dalam bekerja,
3)        Kemampuan menganalisis data/informasi, kemampuan/kegagalan menggunakan mesin/peralatan, dan
4)        Kemampuan mengevaluasi (keluhan masyarakat).

Dengan demikian, kepemimpinan kepala desa dalam mempengaruhi pegawainya untuk mencapai misi, tugas dan sasaran yang ingin dicapai akan menghasilkan kinerja pegawai menjadi lebih optimal, sebagaimana yang akan diteliti di dalam penelitian ini.
Untuk lebih memahami batasan konsep penelitian koordinasi digambarkan alur pikir penelitian, sebagai berikut:
Gambar 1.1
Kerangka Pemikiran

1.4.2    Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, peneliti mengemukakan hipotesis: “Kepemimpinan kepala desa berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Kantor Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB”.

1.5       Definisi Operasionalisasi
Untuk memperjelas hipotesis dan mengarahkan pembahasan, maka peneliti akan mengemukakan definisi operasional variabel bebas dan variabel terikat sebagai berikut:
Tabel 1.1
Operasionalisasi Variabel Bebas
Variabel
Dimensi
Indikator
No. Item
Kepemimpinan Kepala Desa
Hubungan antara pemimpin dengan pegawai
-     Kepala desa dapat membina kerjasama yang baik dengan pegawai
-     Kepala desa mendapatkan dukungan yang baik dari pegawai
-     Kepala desa dapat mengkoordinasikan pegawai untuk bekerja sama
1


2


3
Struktur tugas
-     Kepala desa memberikan tugas sesuai keahlian dan jabatan pegawai
-     Kepala desa memberikan tugas sesuai ketentuan yang berlaku
-     Kepala desa melakukan pengawasan kepada pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya
4


5


6
Kewibawaan kedudukan pemimpin
-     Kepala desa memberikan contoh teladan kepada pegawainya
-     Kepala desa dapat menggerakkan pegawainya untuk bekerja efektif
-     Kepala desa dapat memberi pembinaan kepada pegawainya yang lalai
7


8


9




Tabel 1.2
Operasionalisasi Variabel Terikat
Variabel
Dimensi
Indikator
No. Item
Kinerja Pegawai
Aspek Kuantitatif
-   Pegawai dapat menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
-   Pegawai dapat menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan target yang telah ditetapkan
-   Pegawai dapat menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan
10



11



12
Aspek Kualitatif
-   Pegawai memiliki kemampuan dalam penyelesaian tugas-tugasnya
-   Pegawai memiliki kemampuan dalam mempergunakan teknologi modern
-   Pegawai memiliki kemampuan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi
13



14



15


1.6       Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
1.6.1    Metode Peneltian
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan mengunakan pendekatan deskriptif dan asosiatif. Metode kuantitatif yaitu metode penelitian yang digunakan pada populasi atau sampel dan pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian (Sugiyono, 2010: 13). Pendekatan deskriptif adalah berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri (Sugiyono, 2010: 53), sedangkan pendekatan asosiatif adalah berkenaan dengan pertanyaan penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2010: 55).

1.6.2    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.   Kuisioner
      Kuisioner merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberi kuisioner bersedia memberikan jawaban atau tanggapannya.
2.   Wawancara
      Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan informasi tambahan atau pendapat yang dipandang perlu sebagai pelengkap data. Dengan melakukan wawancara dapat diketahi hal yang menunjang penelitian.
3.   Study Pustaka
      Mengumpulkan data kepustakaan yang berhubungan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Hal ini dilakukan agar penulis dengan penelitian ini mendapatkan data-data yang konsepsional dari segi teoritis. Cara memperoleh data dengan membaca dan mempelajari buku-buku, dokumen-dokumen, arsip-arsip dan peraturan perundang-undangan yang ada kaitannya dengan masalah penelitian ini.

1.7       Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel
Menurut Mantra dan Kasto (dalam Singarimbun, 1989: 152), populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang  ciri-cirinya akan diduga, sedangkan menurut Sugiyono (2003: 55), populasi adalah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pegawai Kantor Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB sebanyak 11 orang.
Menurut Black (1992: 231), sampel adalah bagian dari populasi yang lebih besar, namun disebabkan populasi dalam penelitian yang akan dilakukan ini sangat terbatas, maka dalam penelitian ini tidak ditarik sampel, artinya semua populasi dalam penelitian ini dijadikan responden atau dalam penelitian ini digunakan sampel jenuh. Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Biia seluruh populasi dijadikan sampel, maka teknik pengambilan sampel dengan cara seperti ini dinamakan sensus atau sampling jenuh. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono (2005: 78), yang menyatakan bahwa:
Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, di mana semua anggota populasi dijadikan sampel.

Dengan demikian, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel Non Probability Sampling dengan metode Sampling Jenuh, di mana yang dijadikan sampel adalah seluruh pegawai Kantor Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB yang berjumlah 11 orang.

1.8       Teknik Pengolahan Data
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan asosiatif. Dalam metode deskriptif, data yang diperoleh disusun dan diklasifikasikan secara sistematis, faktual dan cermat, selanjutnya data tersebut dianalisis dan diinterpretasikan secara deskriptif yang memaparkan situasi atau peristiwa yang terjadi saat ini agar diperoleh gambaran tentang masalah yang diteliti di mana dalam hal ini mengenai tingkat kepemimpinan kepala desa dan kinerja pegawai Kantor Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB. Sedangkan dalam metode asosiatif, data yang diperoleh disusun dan diklasifikasikan secara sistematis, faktual dan cermat, selanjutnya data tersebut dianalisis dan diinterpretasikan secara asosiatif yang menjelaskan hubungan antar variabel dependen dengan independen yang diteliti di mana dalam hal ini mengenai pengaruh kepemimpinan kepala desa terhadap kinerja pegawai Kantor Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB.
            Selanjutnya untuk memberikan nilai pada jawaban responden terhadap pertanyaan yang disajikan peneliti, jawaban diberi bobot nilai dengan menggunakan skala Likert/Sikap. Skala Likert ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Adapun pembagian skornya sebagai berikut:




Tabel 1.2
Skala Likert
Altenatif Jawaban
Bobot
Sangat Setuju
5
Setuju
4
Netral
3
Tidak Setuju
2
Sangat Tidak Setuju
1

            Untuk mempermudah dalam mendiskripsikan variabel penelitian, digunakan kriteria tertentu yang mengacu pada rata-rata skor kategori angket yang diperoleh responden. Penggunaan skor tertinggi ini digunakan  sesuai dengan lima kategori yang dikembangkan dalam sksla likert dan digunakan dalam penelitian. Kriteria yang digunakan penelitian berpedoman kepada ketentuan yang dikemukan Notoatmodjo (2003: 91), sebagai berikut:
Tabel 1.3

Kriteria Jawaban

Penilaian
Penafsiran
Sangat Baik
Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Tidak Baik
Rata-rata skor 5
Rata-rata skor 4
Rata-rata skor 3
Rata-rata skor 2
Rata-rata skor 1

1.8.1    Uji Intrumen Penelitian
Sebelum melakukan analisis regresi dan korelasi, maka terlebih dahulu perlu dilakukan pengujian instrumen penelitian, apakah dapat diterima atau tidak kevaliditasan dan kereliabilitasan instrumen dalam kuesioner penelitian yang dilakukan peneliti.
1.8.1.1 Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keabsahan dan kevalidan suatu alat ukur atau instrumen penelitian. Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur itu mampu mengukur apa yang akan diukur dalam suatu penelitian (Singarimbun dan Effendi, 1995: 124). Untuk menguji validitas alat ukur atau instrumen penelitian, terlebih dahulu dicari nilai (harga) korelasi dengan menggunakan Rumus Koefisien Korelasi Product Moments Pearson sebagai berikut:
Keterangan:
r     :  Koefisien korelasi
n    :  Jumlah responden
Y   :  Jumlah skor total seluruh item
X   :  Jumlah skor tiap item

Rumus yang dikemukakan di atas, baik pengolahan, pengujian, maupun analisis data untuk membuktikan tingkat validitas dilakukan dengan alat bantu Program SPSS, sehingga digunakan kriteria valid, yaitu tingkat signifikan yang kurang dari α = 0,05 atau:
-          Jika α < 0,05, maka alat ukur atau instrumen penelitian yang digunakan adalah valid.
-          Jika α ≥ 0,05, maka alat ukur atau instrumen penelitian yang digunakan adalah tidak valid.


1.8.1.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur atau instrumen penelitian dapat dipercaya atau diandalkan dalam kegiatan pengumpulan data (Singarimbun dan Effendi, 1995: 140). Untuk menguji reliabilitas atau keandalan alat ukur atau instrumen dalam penelitian ini digunakan koefisien Alpha Cronbach. Koefisien Alpha Cronbach ditunjukkan dengan:
Alpha (α) =
Keterangan:
k          :  Jumlah variabel manifes yang membentuk variabel laten
         :  Rata-rata korelasi antar variabel manifes.

Rumus yang dikemukakan di atas, baik pengolahan, pengujian, maupun analisis data untuk membuktikan reliabilitas dilakukan dengan alat bantu Program SPSS, sehingga digunakan kriteria reliabel, yaitu tingkat signifikan yang lebih besar dari Alpha Cronbach (α) = 0,5 atau:
-          Jika Alpha Cronbach (α) > 0,5, maka alat ukur pada kuesioner penelitian yang digunakan adalah reliabel.
-          Jika Alpha Cronbach (α) ≤ 0,5, maka alat ukur pada kuesioner penelitian yang digunakan adalah tidak reliabel.





1.8.2    Analisi Regresi dan Korelasi
1.8.2.1 Analisis Koefisien Korelasi dan Determinasi
Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel X dengan Y. Analisis Korelasi yang digunakan adalah (PPM) Pearson Product Moment, dengan rumus:
Korelasi PPM dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 < r < +1). Apabila nilai r = -1 artinya korelasinya negatif sempurna, r = 0 artinya tidak ada korelasi dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat. Sedangkan arti harga r akan dikonsultasikan dengan Tabel interpretasi Nilai r menurut Riduwan (2007: 223), sebagai berikut:
Tabel 1.4
Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r
Interval Koefisien
Tingkat Hubungan
0,80 -1,000
Sangat Kuat
0,60 - 0,799
Kuat
0,40 - 0,599
Cukup Kuat
0,20 - 0,399
Rendah
0,00 - 0,199
Sangat Rendah

Pengujian lanjutan, yaitu uji signifikansi yang berfungsi apabila peneliti ingin mencari makna hubungan variabel X terhadap Y, maka hasil korelasi Moment Pearson tersebut diuji dengan Uji Signifikansi dengan rumus:
di mana:
t hitung   : Nilai t
r              : Nilai Koefisien Korelasi
n             : Jumlah sampel

Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien determinan. Koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien korelasi Moment Pearson yang dikalikan dengan 100%. Dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel X mempunyai kontribusi atau ikut menentukan perubahan pada variabel Y. Derajat koefisien determinasi dicari dengan menggunakan rumus:
KP = r2 x 100%
di mana:
KP : Nilai Koefisien Determinan
r     : Nilai Koefisien Korelasi.

1.8.2.2 Analisis Regresi
Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian sebagaimana telah diidentifikasi di atas, dan sehubungan dengan operasionalisasi variabel yang mempergunakan jenis data kuantitatif, maka penulis menggunakan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Persamaan analisis regresi sederhana secara umum, sebagai berikut:
Y   =   a  +  b x  Є
di mana:
X   : Kepemimpinan Kepala Desa
Y   : Kinerja Pegawai
Є   :  Epsilon


1.8.2.3 Uji Hipotesis
Uji statistik yang digunakan adalah uji t yang dihitung dengan rumus:
Keterangan:
t     :     t hitung
bYX :     koefisien regresi
se   :     standar error

Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi bandingkan antara nilai t hitung dengan t tabel dengan dasar pengambilan keputusan, sebagai berikut:
§  Jika t hitung < t tabel, maka maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak signifikan.
§  Jika t hitung > t tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak, artinya signifikan.

Bila hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa Ho ditolak, maka hal ini berarti bahwa variabel bebas (X) mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel tidak bebas (Y). Tetapi bila hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa Ho diterima, maka hal ini berarti variabel bebas (X) tidak mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel tidak bebas (Y) atau besarnya pengaruh ini dapat diabaikan.
Kemudian untuk menguji kelinearitasan model regresi dilakukan dengan Uji F. Berdasarkan koefisien R2, maka nilai F dapat dihitung, sebagai berikut:
Bila hasil perhitungan uji statistik menunjukkan bahwa F hitung > F tabel, maka keputusannya adalah persamaan regresi tersebut adalah signifikan dan linear. Rumus yang dikemukakan di atas, dilakukan dengan alat bantu Program SPSS.

1.9       Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi yang menjadi pilihan penelitian oleh penulis adalah pegawai yang ada di Kantor Desa Mekarsari Kecamatan Cipongkor KBB.
Tabel 1.5
Waktu Penelitian
No
U r a i a n
W a k t u
2011-2012
Agt
Sep
Okt
Nov
Des
Jan (12)
Ket
1
Memilih dan merumuskan masalah penelitian







2
Studi Kepustakaan dan penjajajagan masalah







3
Menyusun rancangan penelitian







4
Melaksanakan pengumpulan dan menganalisa data







5
Mengolah dan menganalisa data







6
Menyusun laporan dan Seminar Skripsi









wi_ �pt x 0R 2N mso-border-top-alt:solid windowtext .5pt;mso-border-left-alt:solid windowtext .5pt; mso-border-alt:solid windowtext .5pt;padding:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt'>












Lampiran 4. Contoh format laporan keuangan bulanan
Nama Unit Kerja         :
Judul Program             :
Laporan Bulan                        :
No.
Uraian Kegiatan
Alokasi Dana
Realisasi Keuangan
Fisik (%)
Sisa Dana



Rupiah
%


1.
Kegiatan A:
Sub kegiatan 1
Sub kegiatan n





2.
Kegiatan B:
Sub kegiatan 1
Sub kegiatan 2





3.
Kegiatan C:
Sub kegiatan 1
Sub kegiatan n





4.















Ketua Unit Kerja                                                                                                 Penanggungjawab Program



(……………………..)                                                                                         (………………………………)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar