Label

Rabu, 04 April 2012

KRIMINOLOGI


Kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya (kriminologi teoritis atau murni). Dalam teori kriminologi bahwa kejahatan merupakan gejala individual dan bahwa kejahatan adalah sebagai gejala sosial, merupakan dua konsep yang harus terus di kaji validitasnya.
Mencegah lebih baik dari pada menyembuhkan, demikianlah semboyan dari ilmu pengetahuan kedokteran sejak dahulu kala, kebenaran yang sama juga berlaku bagi kriminologi. Mencegah kejahatan adalah lebih baik daripada mencoba mendidik penjahat menjadi orang baik kembali, lebih baik disini juga berarti : lebih mudah, lebih mencapai tujuannya, lebih murah. Kriminologi terutama digunakan untuk memberi petunjuk bagaimana masyarakat dapat memberantas kejahatan dengan hasil yang baik dan lebih-lebih menghindarinya.
Apa dan Siapa Penjahat itu adalah orang/kelompok yang telah malakukan suatu kejahatan. Dipandang dari sudut formil (menurut hukum) kejahatan adalah suatu perbuatan yang oleh masyarakat

Kriminologi sebagai ilmu sosial terus mengalami perkembangan dan peningkatan. Perkembangan dan peningkatan ini disebabkan pola kehidupan sosial masyarakat yang terus mengalami perubahan-perubahan dan berbeda antara tempat yang satu dengan yang lainnya serta berbeda pula dari suatu waktu atau jaman tertentu dengan waktu atau jaman yang lain sehingga studi terhadap masalah kejahatan dan penyimpangan juga mengalami perkembangan dan peningkatan dalam melihat, memahami, dan mengkaji permasalahan-permasalahan sosial yang ada di masyarakat dan substansi di dalamnya.
Berkembangnya studi yang dilakukan secara ilmiah mengenai tingkah laku manusia memberikan dampak kepada berkurangnya perhatian para pakar kriminologi terhadap hubungan antara hukum dan organisasi kemasyarakatan. Kemunculan aliran positif mengarahkan para pakar kriminologi untuk lebih menaruh perhatian kepada pemahaman tentang pelaku kejahatan (penjahat) daripada sifat dan karakteristik kejahatan, asal mula hukum serta dampak-dampaknya. Perhatian terhadap hubungan hukum dengan organisasi kemasyarakat muncul kembali pada pertengahan abad 20, karena hukum mulai dianggap memiliki peranan penting dalam menentukan sifat dan karaktersitik suatu kejahatan. Para pakar kriminologi berkeyakinan bahwa pandangan atau perspektif seseorang terhadap hubungan antara hukum dan masyarakat memberikan pengaruh yang penting dalam penyelidikan-penyelidikan yang bersifat kriminologis.
Dalam perkembangannya itu, para pakar kriminologi merumuskan tiga perspektif dan tiga paradigma tentang hubungan antara hukum dan organisasi kemasyarakatan. Tiga perspektif tersebut adalah Konsesus, Pluralis, dan Konflik. Sedangkan tiga paradigma dalam memahami gejala-gejala (reaksi sosial) tersebut adalah Paradigma Positivis, Interaksionis, dan Sosialis.
Sebagai studi ilmiah tentang kejahatan, kriminologi tumbuh dan berkembang sebagai rekasi dari “kekacauan” dan ketidak tertiban di Negara-negara Eropa abad 18 dan 19 dengan harapan bahawa ilmu pengetahuan baru dapat menemukan hukum alam yang memungkinkan masyarakat berkembang melalui program untuk mewijudkan kesejahteraan masyarakatnya. Akibatnya segala sesuatu yang dipandang sebagai dapat mengganggu terwujudnya kesejahteraan masyarakat seperti kejahatan, dipandang sebagai melanggar hukum alam.
Pakar kriminologi telah merumuskan tiga perspektif tentang hubungan antara hukum dan organisasi kemasyarakatan, yaitu Konsesus, Pluralis, dan Konflik. Tiga perspektif ini merupakan suatu perkembangan pemahaman yang bergerak dari konservatif menuju liberal dan akhirnya ke sebuah perspektif radikal. Selain itu terdapat tiga paradigma yang digunakan dalam memahami gejala-gejala (reaksi sosial), yaitu Paradigma Positivis, Interaksionis, dan Sosialis.
Dalam kriminologi, terdapat beberapa teori, yang telah digagas oleh pakar-pakar kriminologi terdahulu,  yang menjadi acuan bagi keberlangsungan kriminologi itu sendiri. Teori-teori ini, seperti teori struktur sosial, pengendalian sosial, dan teori labeling, dapat menjadi landasan dalam melihat dan menjawab masalah-masalah yang ada di masyarakat atau dalam mendukung perkembangan dan pembaharuan hukum dan perundangan hukum pidana. Melihat keterkaitan atau kesesuaian antara teori-teori tersebut dengan perspektif dan paradigma yang ada, adalah menjadi pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini. Selain itu juga penulis juga membahas mazhab-mazhab dalam kriminologi yang menggolongkan jenis-jenis kejahatan manusia.
 PEMBAHASAN DAN ANALISA

Dalam kriminologi terdapat beberapa teori yang dibagi kedalam tiga perspektif yaitu :
1.      Teori-teori yang menjelaskan kejahatan dari perpektif biologi dan psikologis.
2.      Teori-teori yang menjelaskan kejahatan dari perpektif sosiologis,
3.      Teori-teori yang menjelaskan kejahatan dari perpektif lain.

Teori yang menjelaskan kejahatan  dari perpektif biologi dan psikologis.
“Cesare Lombroso” seorang Italia yang sering dianggap sebagai “the father of modern criminology” ia menjelaskan kejahatan dari mashab klasik menuju mashab positif.
Perbedaan signifikan antara mashab klasik dan mashab positif adalah bahwa yang terakhir tadi mencari fakta empiris untuk menmgkonfirmasi gagasan bahwa kejahatan itu dutentukan oleh berbagai factor.dimana para tokoh psikologis mempertimbangkan suatu variasi dari kemungkinan cacat dalam kesadaran, ketidak matangan emosi, sosialisasi yang tidak memadai dimasa kecil, kehilangan hubungan dengan ibu dll.
Sementara dari tokoh biologis mengukuti tradisi Charles Goring dalam upaya menelusuri  tentang tingkah laku criminal.
Penjelasan biologis Atas Kejahatan
Auguste Comte(1798-18570 ) membawa pengaruh penting bagi para tokoh mazhab positif menurutnya ” there could be no real knowledge of social phenomena unless it was based on a positivist. Tokoh yang terkenal diantaranya yaitu:
Cesare Lomroso
Dimana ia mengabungkan positivisme comte, evaluasi dari Darwin . ajaran inti dari teori nya menjelaskan tentangpenjahat mewakili suatu tipe keanehan fisik, yang berbeda dengan non criminal, dia menklaim bahwa para penjahat mewakili sutau bentuk kemerosotan yang termanifes dalam karakter fisik yang merefleksikan suatu bentuk awal dari evolusi.
Teori nya tentang born criminal menyatakan bahwa para penjahat adalah suatu bentuk yang lebih rendah dalam kehidupan, lebih mendekati nenek moyang mereka yang mirip kera dalam sifat bawaan dan watak dibandingkan mereka yang bukan penjahat.
Enrico Ferri
Ferri berpendapat bahwa kejahatan dapat dijelaskan melalui studi pengaruh pengaruh interaktif diantara factor fisik dan factor sosial. Dia juga berpendapat bahwa kejahatan dapat dikontrol denagn perubahansosial.
Raffaela Garafola
Menurut teori ini kejahatan-kejahatan alamiah ditemukan didalam seluruh masyarakat manusia, tidak peduli pandangan pembuat hukum dan tidak ada masyarakat yang beradab dapat mengabaikannya.
Charles Buchman Goring
Ia menyimpulkan tidak ada perbedaan-perbedaan signifikan antara penjahat dan non penjahat kecuali dalam hal tinggi dan berat tubuh. Para penjahat didapat lebih kecil danramping. Ia menafsirkan temuan ini sebagai penegasan dari hipotesanya bahwa para penjahat secara biologi lebih nferior tetapi tidak menemukan satu pun tipe fisik penjahat.

PENJELASAN PSIKOLOGIS ATAS KEJAHATAN
1.      Theori psikoanalisis ( Sigmund Freud)
Teori ini menghubungkan dilequent dan prilaku criminal denag suatu conscience yang baik dia begitu menguasai sehingga menimbulkan perasaan bersalah atau ia begitu lemah sehingga tidak dapat mengontrol dorongan siindividu dan bagi kebutuhan yang harusa segera dipenuhi.

2.      Moral development theory
Lawrence Kohlberg seorang psikolog menemukan bahwa pemikiran moral tumbuh dalam tiga tahap yakni; preconvensional stage,conventional level, dan postconventional.
Sedangkan John Bowlhy mempelajari kebutuhan akan kehangatan dan afeksi sejak lahir dan konsekwensi bila tidak mendapatkan itu, dia mengajukan theory of attachment
3.      Social Learning  Theory
Teori pembelajaran ini berpendirian bahwa prilaku dilenquent ini dipelajari melalui proses psikologis yang sama sebagai mana semua prilaku non dilenquent.tokoh yang mendukung teori ini diantaranya adalah;
4.      Albert Bandura
Ia berpendapat bahwa individu-individu yang mempelajari kekerasan dan agresi melalui behavioral modeling; anak belajar bertingkah laku melalui peniruan tingkah laku orang lain.
5.      Gerard Peterson
Ia menguji bagaimana agresi dipelajari melalui pengalaman langsung. Ia melihat bahwa nanak-anak yang bermain secara pasifsering menjadi korban anak-anak lainnya tetapi kadanng-kadang berhasil  mengatasi serangan itu dengan agresi balasan. Dengan berlalunya waktu anak-anak ini belajar membela diri dan akhirnya mereka mulai perkelahian.
6.      Ernesnt Burgess dan Ronald Akers
Dimana mereka mengabungkan learning theory dari Bandura yang berdasarkan psikologi dengan theori differential association dari Erwin Sutherland yang berdasarkan sosiologi dan kemudian menghasilkan teori differential association rein forcemt.


TEORI-TEORI YANG MENJELASKAN KEJAHATAN DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGIS
Dimana teori-teori sosiologis mencari alasan perbedaan dalam angka kejahtan didalam linkungan sosial. Teori ini ndapat dikatagorikan dalam 3 katagori umum yakni; strain, culture divience, dan social control.
StrainTheories
Theori Anomie dari Emile Durhkeim
Ia menyakini jika sebuah masyarakat sederhan bekembang menuju suatu masyarakat yang modern dan kota maka kedekatan yang dibutukan untuk melanjutkan satu set norma akan merosot dimana kelompok-kelompok akan terpisah dan dalam ketiadaan dalam satu set aturan-aturan umum tidakan-tindakan dan harapan orang dalam satu sektor mungkin akan bertentangan tindakan dan harapamn orang lain dengan tidak dapat diprediksi perilaku system tersebut secara bertahap akan runtuh dan masyarakat itu dalam kondisi anomie.
Durkheim mempercayai bahwa hasrat manusia adalah tak terbatas satu. Karena alam tidak mengatur batas-batas biologis yang ketat untuk kemampuan manusia.

CULTURAL DEVIANCE THEORIES (TEORI-TEORI PENYIMPANGAN BUDAYA)
Tiga teori utama dari kultur devince theories yakni;
1.      Social Disorganization
Yang terfokus pada perkembangan disintegrasi nilai konvensional yang disebabkan industrialisasi yang cepat, peningkatan imigrasi dan urbanisasi.tokoh yang terkenal diantaranya adalah;
  1. W.I Thomas dan Florian Znanieck
Dalam buku mereka yang berjudul The polish peasant in ueropa and America mengambarkan pengalaman sulit yang dialami petani polandia ketika mereka meninggalkandunia lamanya yaitu pedesaan untuk menuju kota industi disunia baru. Selain itu mereka menyelidiki asimilasi dari para imigran dimana para imigra tua tidak begitu terpengaru akan kepindahan itu meski berada didaerah kumuh.tetapi tidak demikian dengan generasi muda mereka memiliki sedikit tradisi lama tetapi tidak terasimilasi dengan tradisi dunia baru.
  1. Robert Park dan Ernest Burgess.
Mereka mengembangkan lebih lanjut studi tentang social disorganization dari Thomas dan Znaniecki dengan menintrodisir analisa ekologi dari masyarakat dunia.
Dalam studinya tentang disorganization sosial meneliti karakter daerah dan bukan meneliti para penjahat untuk penjelasantentang tingginya angka kejahatan.mereka mengembangkan pemikiran tentang natural urban areas yang terdiri atas zona-zona kosentrasi yang memanjang keluar dari distrik pusat bisnisditengah kota.
  1. Clifford Shaw dan Hendri McKay
Dimana mereka menunjukan bahwa angka tertinggi dari dilenquent berlangsung terus diarea yang sama dari kota Chicago meskipun komposisi etnis berubah. Penemuan ini membawa kesimpulan bahwa factor yang paling menentukan  bukan lah etnissitas melainkan posisi kelompok didalam penyebaran status ekonomi dan nilai-nilai budaya.
2.      Culture conflick theory
Menegaskan bahwa kelompok-kelompok yang berlainan belajar conduck norm yang berbeda dan bahwa conduck norms dari suatu kelompok mungkin berbenturan dengan aturan konvensional kelas menegah.tokoh nya yang terkenal adalah Thorsten sellin dimana ia mengatakan conduk norm merupakan aturan yanmg merefleksikan dari sikap-sikap dari kelompok yang masing-masing dari kita memilikinya.
3.      Differential association theory
Memegang pendapat bahwa orang belajar melakukan kejahatan sebagai akibat hubungan dengan nilai-nilai dan siap anti sosial serta pola tingkah laku criminal.tokohnya yang terkenal adalah; Edwind H. Sutherland dimana ia mengantikan konsep social disorganized dengan konsepnya tentang differential social organization.

SOCIAL CONTROL
Konsep sosial control lahir pada peradaban dua puluhan, e.A.ros salah seorang Bapak sosialog amirika berpendapat bahwa system keyakinan lah yang membimbing apa yang dilakukan oleh orang-orang dan yangsecara universal mengontrol tingkah laku, tidak peduli apapun bentuk keyakinan yang dipilih. Berikut ini beberapa pendsapat yang tergabung dalam teori control sosial;
TRAVIS HIRCHI( SOCIAL BONDS)
Ia menyebutkan empat sosial bonds yangn mendorong sosialzation dan conformity diri yaitu; attecment ( kasih saying), commitment, involemt, dan bilief. Menurutnya semakin kuat ikatan ikatan ini semakin kecil kemungkinan terjadi dilenquncy.

MICHAELGOTFREDSON dan TRAVIS HIRSCHI (SELF CONTROL THEORY)
Merka justru menegaskan bahwa self control yang terpendam pada awal kehidupan seseorangmenetukan siapa yang jatuh sebagai pelaku kejahatan. Jadi control merupakan suatu keadaan internal yang permanent dibandingkan pada hasil dari perjalanan factor biologis menurut mereka self control merupakan alat pencegah yang membuat sesorang menolak kejahatan dan pemuasan sesaat.
DAVID MATZA (TECHNIQUES OF NETRALIZATION)
Pada tahun 1960an ia mengembang suatu perspektif yang berbeda secara signifikan pada sosial control dengan menjelaskan mengapa sebagian remaja hanyut kedalam atau keluar dari dilequency. Menurutnya remaja merasakan suatu kewajiban moral untuk memntaati atau terikat dengan hukum.
Jika seorang remaja terikat oleh aturan sosial bagaimana menjustifikasikan tindakan mereka. Jawabnya bahwa mereka mengembangkan techinis quest of netralisir untuk merasionalisasikan tindakan mereka.
ALBERT J.REISS ( PERSONAL AND SOSIAL CONTROL)
Menurutnya dilenquency merupakan hasil dari; kegagalan dalam menanamkan norma berprilaku yang secara sosial diterima dan titentukan, runtuhnya control sosial, dan tiadanya aturan aturanyang menentukan tingkah laku dikeluarga sekolah dan kelompok sosial lainnya.
WALTERC. RECKLESS
Yang dimaksud dengan containment theory menurutnya adalah untuk menjelaskan mengapa ditengah berbagai dorongan dan tarikan tarikan kriminogenikyang beraneka macam apapun itu bentuknya, comformnity tetaplah menjadi sikap yang umum.

MAZHAB DALAM KRIMINOLOGI
Dalam perspektif kriminologi bahwa suatu kejahatan itu relatif karena kejahatan sebagai masalah fenomena sosial tetap dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat, seperti : politik, ekonomi, sosial, budaya serta hal-hal yang berhubungan dengan upaya pertahanan negara.
1.      Mazhab Italia atau Mazhab Antropologi
Tokoh mazhab ini adalah Cesaro Lombroso (1835-1909) seorang dokter. Ia adalah guru besar dalam ilmu kedokteran kehakiman (dalam ilmu forensik), kemudian juga dalam ilmu jiwa di Turin Italia.  Pandangan Lobroso mengenai penjahat didasarkan atas hasil penelitian secara antropologis mengenai penjahat-penjahat yang terdapat dalam rumah penjara terutama mengenai tengkorak. Kesimpulan dari penelitianya adalah bahwa para penjahat dipandang dari sudut antropologi mempunyai tanda-tanda tertentu, diantaranya adalah sebagai berikut.
a.       Tengkorak isinya kurang jika dibandingkan dengan manusia normal.
b.      Dalam otaknya terdapat keganjilan, yang seakan-akan memperingatkan pada otak hewan.
c.       Roman mukanya juga lain daripada orang biasa, tulang dahinya melengkung kebelakang.
d.      Suka akan tato.

2.      Mazhab Perancis
Tokoh terkemuka mazhab ini adalah A. Lacassagne (1843-1924) guru besar dalam ilmu kedoteran kehakiaman di perguruan Kriminil Internasional di Roma (1885). Ia menentang Lombroso dengan menyatakan bahwa kejahatan dan penjahat dibentuk oleh lingkungan sosial bukan dibawa sejak lahir. dan juga tokoh penting lainya adalah Gabriel Tarde (1843-1904) seorang ahli hukum dan sosiologi. Menurut pendapatnya kejahatan bukan suatu jejek yang antropologis tapi sosiologis, yang seperti kejadian-kejadian masyarakat lainnya dikuasai oleh faktor imitasi.

3.      Mazhab Bio-Sosiologi
a.       Prins (1845-1919) dari Belgia
b.      Von Liszt dari jerman
c.       Van Hamel (1842-1917) dari Belgia
d.      Simons (1860-1930) dari Belanda

Menurut pandangan mazhab Bio-Sosiologi factor individu yang dapat mendorong seseorang adalah sifat individu yang melakukan kejahatn dibawa sejak lahir (sebagai factor heriditer) yang meliputi keadaan badaniah, jenis kelamin, tingkat kecerdasan (IQ), temperamen dan kesehatan mental (psycho hygiene). Sedangkan factor lingkungan yang mendorong seseorang melakukan kejahatan meliputi keadaan lingkungan fisik seperti keadaan geografis dan klimatologis,serta keadaan social ekonomi masyarakat, tingkat peradaban masyarakat, keadaan politik suatu Negara dan lain-lain.
4.      Mazhab Spiritualis
Tokoh terkemuka mazhab ini adalah De Baets (1863-1931) dan F.A.K Krauss (1843-1917). Menurut mazhab ini kejahatan timbul karena orang-orang jauh dari kehidupan agama.Aliran-aliran dalam kriminologi yang mempunyai kedudukan sendiri, ialah aliran yang dulu mencari sebab terpenting dari kejahatan adalah tidak berimannya seseorang. Tetapi kemudian aliran ini mengalami bermacam-macam perobahan dan kehalusan, yang oleh karenanya –demikian itu jika mungkin- pada waktu sekarang lebih tepat jika dinamakan aliran neo-spiritualis yang lebih dari pada aliran-aliran yang sudah dibicarakan mempunyai kecenderungan, mementingkan unsur kerohanian dalam terjadinya kejahatan.

Selain itu juga ada beberapa aliran lain,yaitu:
Beberapa aliran seseorang melakukan pidana :
1.      Mazhab Klasik = ilmu jiwa (Hedonis Psycologi/HP) tokohnya (Beccaria dan J. Betham)

Menurut HP :
a.       Setiap manusia memiliki kehendak bebas untuk berbuat/tidak berbuat sesuatu
b.      Bahwa seseorang melakukan sesuatu karena senang
c.       Dalam menyikapi kejahatan maka Negara sebaiknya memberikan sanksi yang sangat berat.
2.      Mazhab geografis / mazhab etologis ( Quetkette & Guerry)
a.       Kejahatan2 itu terdistribusi ke dalam daerah2 tertentu, baik secara geografis maupun secara social.
b.      Kejahatan merupakan ekspresi dari kondisi social, mencerminkan situasi social.
c.       Quetelet (1796-1829) seorang ahli ilmu pasti dan sosiologi dari Belgia berpendapat kejahatan dapat diberantas dengan memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat. (dengan statistic).
Sebelum klasik sebelumnya ada dua mazhab
3.      Aliran Pra klasik : aliran demonologis
Orang berbuat kejahatan itu karena diganggu oleh setan. Konsep teori demonologis mengaggap pelaku kejahatan itu adalah iblis.
Teori ini berpendirian bahwa para penjahat dan korban kejahatan dipengaruhi oleh iblis jadi mereka adalah korban iblis.
4.      Aliran Neo Klasik : aliran hedonistic
Orang berbuat kejahatan karena orang tersebut senang melakukan kejahatan.
Sanksi yang diberikan harus berat dari pada rasa senang yang ia dapat ketika melakukan kejahatan agar ia berfikir ulang untuk melakukan kejahatan.
Menurut teori ini, orang melakukan kejahatan dengan alasan yang irasional.
5.      Mazhab Sosialis (marxis&Karl Mark)
Mazhab sosialis bertabrakan dengan demonis dan geografis menyatakan kejahatan itu produk sampingan dari kekurangan ekonomi.
6.      Mazhab tipologis (lombroso/antropologi)
Lombroso : berpendapat tidak ada pengaruh iblis atau ego/kesenangan, tetapi dikarenakan takdirnya menjadi seorang penjahat.
bahwa para pelaku kejahatan itumempunyai cirri-ciri antropologi
7.      Mazhab Mental Tester
mereka para penjahat adalah orang yang mengalami gejala telmi
8.      Mazhab Psikiatri
menurut mazhab ini para penjahat adalah mereka yang sakit jiwa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar