Label

Kamis, 05 April 2012

ISLAM DAN PENDIDIKAN


Islam dan Pendidikan 
Oleh :
FIKI PRIYATNA


Apabila disepakati bahwa yang disebut guru adalah orang yang secara sengaja mengasuh individu atau beberapa individu lainnya agar mereka dapat tumbuh dan berhasil dalam menjalani kehidupan, maka dalam konteks pengertian ini Nabi Muhammad SAW dapat dianggap sebagi sosok guru agung bagi umat manusia, meskipun “Sang Guru Utama” tetap Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW dalam kedudukannya sebagai sang guru, memiliki beberapa tugas spesifik kaitannya dengan kependidikan. Sebagaimana diketahui, di kalangn Muslim, Nabi Muhammad SAW diyakini sebagai Nabi dan Rasul penutup, dengan demikian tugas Nabi Muhammad SAW adalah menyampaikan segala hal yang berkaitan dengan risalah terakhir di bidang aqidah, ibadah, dan mu’amalah, melalui proses pendidikan. Hal ini dapat dilihat dalam Al Qur’an, yang notabenenya merupakan visualisasi dari tugas yang harus dijalankan, memuat ayat-ayat yang menguatkan misi kependidikan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah dalam surat al Maidah: 67
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنْ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (المائدة:   )
               Artinya: “Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir”. (Q.S. al Maidah: 67)

Al Qur’an bagi Nabi Muhammad SAW juga bukan hanya sekedar kitab suci yang memberikan justifikasi kenabian bagi dirinya, lebih dari itu al Qur’an juga merupakan penjelasan tentang konsep pendidikan Tuhan bagi hamba-Nya. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah:
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (النحل:   )

              Artinya: “(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan al Dzikr (al Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan”. (Q.S. al Nahl: 44)

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa “mendidik” manusia dengan petunjuk al Qur’an yang telah diturunkan kepadanya merupakan salah satu tugas Nabi Muhammad SAW. Di sini,  internalisasi nilai-nilai edukatif al Qur’an yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW tidak hanya lewat nasehat dan pengajaran-pengajaran lain, namun diri Nabi Muhammad SAW sendiri menjadi contoh yang hidup bagi dasar-dasar kependidikan yang dikembangkannya. Nabi Muhammad SAW merepresentasikan apa yang diajarkan melalui tindakan, kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalam kata-kata, sehingga apapun yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW akan segera diterima oleh para sahabat karena ucapannya telah diawali dengan contoh kongret. Hal ini seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam surat al Ahzab: 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً (الأحزاب:   )

Artinya: “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. (Q.S. al Ahzab: 21)


A.    Kampus sebagai salah satu media untuk pengembangan islam
Sebagai mahasiswa kita harus berperan aktif dalam kegiatan pengembangan islam sebagai mana yang telah di amanahkan oleh Rasulullah.
TUJUAN PENGEMBANGAN:

KURIKULUM YANG DI PAKAI:

 Di dalam kampus pun ada wadah kegiatan pengembangan  mahasiswa yang contohnya adalah :
1.      Lembaga Pengembangan Masjid (LPM)
LPM adalah salah satu instrumen yang didirikan untuk menjadikan Masjid  sebagai institusi dakwah yang mandiri. LPM tediri atas beberapa badan, diantaranya Badan Usaha yang mengelola toko dan.
2.      Lembaga Pengkajian Islam (LPI)
LPI adalah instrumen yang didirikan  untuk mengembangkan pengkajian dan perumusan pemikiran-pemikiran Islam kontemporer dalam rangka membangun kembali peradaban yang Islami. Saat ini LPI secara reguler mengadakan diskusi pekanan yang membahas tema-tema aktual dari berbagai disiplin ilmu.
3.      Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP)
LPP didirikan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, melalui pengembangan, pelatihan, dan penyebarluasan berbagai metoda pembelajaran mutakhir.  LPP juga berusaha memperluas kerjasama antar lembaga pendidikan dengan cara membangun jaringan.


Program Rutin : seminar, diskusi, dan dialog pendidikan
Program unggulan :
1.      peningkatan mutu guru dan manajer sekolah
2.      olimpiade MIPA tingkat SD, SLTP dan SLTA
3.      Konsultasi dan supervisi

B.     Peran seorang guru muslim dalam mengembangkan islam
“Guru adalah prajurit terdepan di dalam membuka cakrawala peserta didik memasuki dunia ilmu pengetahuan dalam era global ini”Karena guru merupakan faktor terpenting dalam menentukan keberhasilan proses pendidikan. Maka, menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain dituntut untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan, guru juga memiliki “tanggung jawab yang besar dalam upaya menghantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan”.
Oleh karena itu, untuk menjadi seorang guru harus memenuhi persyaratan tertentu sehingga ia mampu menjalankan tugasnya sebagai guru, dengan sebaik-baiknya.
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 42, tertulis sebagai berikut:
a. Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan, mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b. Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi dihasilkan oleh perguruan tinggi yang terakreditasi.
c. Ketentuan mengenai kualitas pendidik sebagaimana dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Menurut Abdurrahman al-Nahlawy sebagaimana dikutip oleh Muhaimin,
sifat-sifat guru muslim adalah sebagai berikut:
a. Hendaknya tujuan, tingkah laku dan pola pikir guru bersifat rabbani.
b. Ikhlas, yakni bermaksud mendapatkan keridhaan Allah, mencapai dan menegakkan kebenaran.
c. Sabar dalam mengajarkan berbagai ilmu kepada peserta didik.
d. Jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya, dalam arti menerapkan anjurannya pertama-tama pada dirinya sendiri karena kalau ilmu dan amal sejalan maka peserta didik akan mudah meneladaninya dalam setiap perkataan dan perbuatannya.
e. Senantiasa membekali diri dengan ilmu dan bersedia mengkaji dan mengembangkannya.
f. Mampu menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi, menguasainya dengan baik,mampu menentukan dan memilih metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan situasi belajar mengajar.
g. Mampu mengelola peserta didik, tegas dalam bertindak, dan meletakkan segala masalah secara proporsional.
h. Mempelajari kehidupan psikis peserta didik selaras dengan masa perkembangannya.
i. Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa, keyakinan dan pola pikir peserta didik, memahami
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang guru, tentunya akan memberikan pengaruh yang besar dalam proses pendidikan. Misalnya, jika seorang guru memiliki sifat penyabar dan ikhlas, maka ia akan senantiasa menuntun muridnya dalam kegiatan belajar mengajar dengan penuh kesabaran dan keikhlasan pula.
C.    Misi seorang guru muslim dalam tugas kependidikan
mengenai tugas-tugas guru ini adalah pendapat Zakiah Darajat sebagaimana dikutip oleh Heri Jauhari Muchtar, yang menyatakan tugas pendidik dalam mengajar adalah:
a. Menjaga proses belajar dan mengajar dalam satu kesatuan.
 b.Menjaga anak dalam berbagai aspek, yaitu  pengetahuan,ketrampilan dan  pengembangan seluruh kepribadian.
c. Mengajar sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan      anak.
d. Menjaga keperluan (kebutuhan) dan bakat anak didik.
e. Menentukan tujuan-tujuan pelajaran bersama-sama dengan anak/peserta  didik supaya mereka juga mengetahui dan mendukung pencapaian tujuan tersebut.
f. Memberi dorongan, penghargaan dan imbalan kepada peserta didik.
g. Menjadikan materi dan metode pengajaran berhubungan dengan kehidupan nyata, sehingga mereka menyadari bahwa yang dipelajarinya itu baik dan berguna.h. Membagi materi pelajaran kepada satuan-satuan dan memusatkannya pada permasalahan-permasalahan.
i. Menghindari perbuatan-perbuatan yang percuma dan memberi informasi-informasi yang tidak berarti, serta menjauhi hukuman dan pengulangan pekerjaan.
j. Mengikutsertakan anak/peserta didik dalam PBM secara aktif sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
k. Warnai situasi proses belajar mengajar dengan suasana toleran, kehangatan, persaudaraan dan tolong menolong. Suasana PBM tidak hanya berpengaruh terhadap keberhasilan pelajaran, tetapi juga mempunyai pengaruh dalam penyerapan anak/peserta didik terhadap sifat-sifat sosial yang baik atau tidak baik.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar