Label

Kamis, 05 April 2012

DEMISTIFIKASI ISLAM DAN PERUMUSAN TEORI ILMU DAN PERADABAN




Universalisme Islam sebagai bagian dari aqîdah Islâmiyyah, dan merupakan karakteristik khusus ajaran Islam, berlaku bagi semua ummat manusia dan alam semesta. Menurut Sayyid Sabiq,[1] dalil-dalil yang mendasari ajaran Islam bersifat universal tersebut, minimal ditentukan oleh tiga faktor, di antaranya bahwa syarî’ah Allah itu memiliki karakter khusus yang dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: syarî’ah yang bersifat mufashal (terperinci) dan syarî’ah yang bersifat mujmal (general).
Syarî’ah Islâmiyyah seperti digambarkan di muka, merupakan salah satu keistimewaan ajaran Allah. Artinya, bila syarî’ah semuanya terperinci, akan menyulitkan para fuqahâ dalam menghadapi suatu perso’alan yang dihadapinya, di samping itu akan menjadikan akal manusia tidak bisa berinovasi dan jumud. Padahal Allah Swt., memberikan akal kepada manusia, agar bisa berpikir guna menemukan sesuatu yang baru, yang bisa menjawab perkembangan dan tantangan zaman melalui bimbingan wahyu.
Firman Allah dalam Surat al-Mâidah (5): 48:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“…untuk tiap-tiap ummat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”.

Sebaliknya, bila semua syarî’ah bersifat general bisa mengakibatkan aturan Allah menjadi lembek dan mudah berubah, karena syarî’ah selalu bergantung kepada pemikiran para fuqaha. Sementara itu, akal manusia memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan. Hal ini semua yang akan memunculkan ketidakpastian hukum, yang pada akhirnya akan menimbulkan kekacauan.
Universalisme Islam, tidak hanya berlaku untuk bangsa Arab saja atau ummat Islam saja. Melainkan berlaku bagi kehidupan masyarakat majemuk, yang terikat oleh sebuah tradisi, keyakinan dan agama tertentu, yang hidup berdampingan, bekerjasama mengatur kehidupan dunia mereka berdasarkan kesepakatan bersama, yang dibangun atas dasar pembagian tugas.
Karena itu, gagasan-gagasan komunitas manusia tersebut, harus lahir dari nilai persatuan dan kesatuan yang mengacu kepada sistem kehidupan bersama. Kepentingan bersama, dan ikatan-ikatan tertentu kehidupan bermasyarakat itu, mempersatukan manusia melalui interaksi sosial dari setiap individu sesuai dengan pengalaman kelompok orang yang melakukan perjalanan bersama, seperti digambarkan oleh falsafah al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar dalam sebuah hadits Nabi Saw. sebagai berikut: [2]
“Sekelompok orang menumpang sebuah perahu, berlayar di laut dan membelah gelombang. Masing-masing mendapatkan tempat duduk. Salah seorang dari musafir itu, menyatakan bahwa tempat duduknya adalah miliknya, mulai membuat sebuah lubang di bawah tempat duduknya dengan sebuah alat tajam. Andaikata para musafir lain tidak segera menahan tangan musafir yang sedang membuat lubang dan mencegahnya dari perbuatan demikian, tentu mereka semua, termasuk si celaka itu, akan terancam tenggelam”.

Berdasarkan penelaahan atas ayat-ayat al-Qurân di muka, maka universalisme Islam bagi seorang Muslim benar-benar harus dijiwai. Seorang Muslim harus berjiwa “demokratis” dan “wâqi’iyyah”, memahami kondisi objektif manusia yang bisa menjawab tantangan internal dan tantangan global serta siap berkompetensi, bahkan bisa menampilkan kebudayaan dan peradaban universal.
Komunitas terbaik dalam Islam adalah ummat Islam yang berpegang teguh kepada al-Qurân dan Sunnah Nabi. Namun, sebagaimana dijelaskan Sayyid Sabiq di muka, bahwa wahyu Allah itu bersifat mufashal dan mujmal. Jadi, wahyu Allah yang bersifat mujmal itu, tidak bisa terlepas dari persoalan interpretasi yang melahirkan perbedaan pendapat yang beragam yang dipengaruhi oleh kemampuan berpikir dan kultur yang dimiliki.
Karena itu, untuk menghindari penyimpangan makna dari maksud wahyu Allah tersebut, para ulama klasik telah menetapkan metodologi penafsiran wahyu yang “dibimbing Allah”, melalui kaidah-kaidah umum. Dan bilamana para ulama klasik itu selesai menginterpretasikan wahyu dengan menggunakan metodologi yang dibuatnya, selalu dibarengi ungkapan wallahu ‘alam bi al-shawab, sebagai bentuk ketawadhuan mereka.
Jadi, pemahaman agama sampai mendasar seperti ini, harus benar-benar dipahami oleh setiap Muslim. Karena, bilamana tidak dipahami dengan benar, akan membuka peluang disintegrasi, yang disebabkan telah menjadikan interpretasi keagamaan menjadi sebuah wahyu.
Sebaliknya, pemahaman agama yang didukung oleh metodologi yang benar, akan melahirkan budaya toleransi, karena Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang terbaik yang memungkinkan manusia untuk berbuat benar, sekaligus diciptakan sebagai makhluk yang lemah yang memungkinkan manusia berbuat salah, seperti dijelaskan dalam al-Qurân Surat al-Tîn (95): 4, Surat al-Isra (17): 70:

لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ فَيْ أَحْسَنِ التَّقْوِيمِ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الإِنْسَانُ ضَعِيْفًا
“Allah hendak memberi keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan beersifat lemah”.

Jadi, tugas seorang Muslim dalam mendakwahkan ajaran Islam itu harus profesional dan proporsional. Posisi Islam dalam kehidupan sosial-budaya harus menjadi motivator bagi perjuangan masyarakat dalam segala sektornya, bukan sebagai tempat berlindung dari ancaman batin saja. Agama Islam memungkinkan membuka cakrawala rasio dan logika serta estetika, yang akan mencegah terjadinya benturan-benturan antara agama dengan kemajuan kebudayaan. Sebaliknya apabila Islam tidak memberikan akomodasi terhadap kreativitas manusia maka konflik-konflik agama akan terjadi.
Islam memiliki ajaran tentang “konsep ilmu” dan syi’âr keimanan kepada Allah dalam tathbîq al-syarî’ah. Abdul Alim Abdul Adhim Al-Bastawi dalam Mas’ud Al-Nadwi, menjelaskan bahwa posisi tauhîd dan syarî’ah itu memiliki karakteristik yang berbeda:
"... الإِسْلاَمُ الَّذِيْ بَعَثَ اللهُ بِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ أَشَدُّ الأَدْيَانِ فَيْ العَقِيْدَةِ وَأَسْهَلُهَا وَأَيْسَرُهَا فَيْ الشَّرَائِعِ... [3]

“…Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi kita Muhammad Saw. adalah agama yang paling tegas di dalam akidah dan paling mudah dalam syari’ah …”

Tekad untuk tathbîq al-syarî’ah dalam berbagai dimensi kehidupan, harus didasarkan kepada Surat al-Nisâ (4): 59, dan Surat al-Taubah (9): 31 berikut ini:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللهَ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِى الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فَيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ ...
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atillah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qurân) dan Rasul (al-Sunnah) …”.

اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ إِلَهًا وَاحِدًا
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga mereka mempertuhankan Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah tuhan Yang Maha Esa …”.

Menurut Ibnu Katsir, makna “kembali kepada Allah  dan RasulNya” pada Surat al-Nisâ (4): 59 di atas, adalah bersandar kepada ketentuan Allah. Menurut beliau:
يَنْكُرُ تَعَالَى عَلَى مَنْ خَرَجَ عَنْ حُكْمِ اللهِ تَعَالَى المُشْتَمَلُ عَلَى كُلِّ خَيْرِ النَّاهِي عَنْ كُلِّ شَرِّ وَعَدَلَ إِلَى مَا سِوَاهُ مِنَ الآرَاءِ وَالأَهْوَاءِ وَالاِصْطِلاَحَاتِ الَّتِي وَضَعَهَا الرَّجُلُ بِلاَ مُسْتَنِدٍ مِنْ شَرِيْعَةِ اللهِ ...  [4]
“Allah akan marah kepada orang yang melanggar ketentuanNya, yang mengandung seluruh kebaikan, yang melarang seluruh kejahatan,  dan berpaling kepada sesuatu selain Dia, seperti pendapat orang, emosi dan istilah lain yang dibuat orang tanpa bersandar kepada syarî’ah Allah”.

Sedangkan makna ahbârahum sebagai arbâb pada Surat al-Taubah (9): 31 di atas, menurut Abdurahman bin Hasan, berarti:
عِبَادَةُ الأَحْبَارِ هِيَ العِلْمُ وَالفِقْهُ ثُمَّ تَغَيَّرَتْ الحَالُ إِلَى أَنْ عُبِدَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مِنْ لَيْسَ مِنَ الصَّالِحِيْنَ وَعَبْدٌ بِمَعْنىَ الثَّانِي مَنْ هُوَ مِنَ الجَاهِلِيْنَ  [5]

“Menyembah orang-orang alim, adalah menyembah ilmu atau fiqh, kemudian keadaan berubah menjadi menyembah kepada selain Allah, yaitu bukan orang-orang shalih, atau orang-orang bodoh”.

Karena itu, yang paling prinsip dan mendasar dari universalisme Islam, menurut Kuntowijoyo adalah demistifikasi Islam, sehingga ayat-ayat al-Qurân yang bersifat general bisa langsung berhubungan dengan kenyataan hidup, seperti dijelaskan dalam kutipan berikut: [6]
“Setidaknya ada lima macam “mistik” (“misteri”) yang ada pada ummat Islam, yaitu mistik metafisik, mistik sosial, mistik etis, mistik penalaran, dan mistik kenyataan. Mistik metafisik adalah hilangnya seseorang “dalam” Tuhan yang disebut mysticism atau sufisme, baik sufisme substansi atau sufisme atribut, menyatu dalam arti dzat atau menyatu dalam arti kehendak/sifat/akhlak. Mistik sosial, adalah hilangnya perorangan dalam satuan yang lebih besar, organisasi, sekte, atau masyarakat. Mistik etis adalah hilangnya daya seseorang menghadapi nasibnya, menyerah pada takdir, atau fatalisme. Mistik penalaran adalah hilangnya nalar seseorang karena kejadian-kejadian di sekitar tidak masuk dalam akalnya. Mistik kenyataan adalah hilangnya hubungan agama dengan kenyataan, kenyataan sebagai sebuah konteks.”

Semua pernyataan tersebut tadi, sangatlah sesuai dan cocok dengan sabda Nabi Saw. seperti yang dikutif Mas’ud Al-Nadwi, sebagai berikut:
إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لهِذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا  [7]
“Sesungguhnya Allah mengutus kepada ummat ini untuk setiap seratus tahun seorang mujaddid yang memperbaharui agamanya”.

Karena itu, maka filsafat dan teknis pembaharuan keilmuan Islam sebagai penopang tegaknya Islam, selamanya harus berpegang kepada wahyu Allah. Proses untuk mengarahkan konsep Islam seperti ini, maka pemahaman al-Qurân dan Sunnah Nabi perlu dijadikan masdar (sumber), amaliyah (proses) melalui kaidah-kaidah umum dan ghâyah (orientasi). Dengan demikian, posisi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, akan lebih bermakna dan aplikatif manakala seorang Muslim bisa memahami al-dîn huwa al-‘ilm wa al-ilm huwa dîn, Islam adalah ilmu, dan ilmu adalah Islam.
Langkah awal untuk memahami konsep Islam seperti ini, menurut Ali Ahmad Madkur, posisi al-Qurân dan al-Sunnah sebagai wahyu yang bersifat mufashal (terperinci) dan mujmal (general) harus dijadikan binâ nadhariyah islâmiyyah, bangunan teori Islam, bukan îjâd falsafah islâmiyyah, membuat filsafat Islam. [8]
Kesimpulan dari ungkapan di atas, penulis mengharapkan agar universalisme Islam ini bisa dipangku melalui upaya-upaya pemahaman Islam sampai mendasar, dan menjadikan wahyu Allah sebagai at-tashawwur al-islâmi (konsep Islam), bukan filsafat yang hanya bersandarkan akal pikiran manusia belaka. Yang paling penting setelah ini, terwujudlah ummatan wasathan, ummat yang independen yang mengajak ke arah kesempurnaan yang ideal-matematis, dan perlu dikonkretkan. Maka, lahirlah keilmuan Islam, dan Islampun akan membumi, menjadi sebuah solusi. Beruntunglah para penegak syari’at Islam. Wallahu ‘alam bi al-shawâb !




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar